Senin, 24 Mei 2010

contoh penulisan ilmiah

dsunting dari : Syah Khomeini D Fery Harahap

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar belakang
Tujuan utama didirikannya perusahaan adalah untuk mencari laba. Hal ini berlaku untuk semua jenis perusahaan baik perusahaan dagang, manufaktur maupun jasa. Untuk perusahaan jasa misalnya, salah satu usaha untuk mendapatkan laba adalah dengan mengiventasikan dana menganggur dengan tujuan dapat mendatangkan laba pada masa yang akan datang.
Untuk memutuskan sebuah putusan investasi diperlukan pertimbangan yang masak sebelum investasi tersebut dilakukan, karena pada umumnya investasi membutuhkan dana yang relatif besar, dan keterikatan dana tersebut dalam jangka waktu yang relatif panjang, serta mengandung resiko.
Investasi dapat dilakukan dalam bentuk penggantian aktiva tetap, penambahan jumlah mesin, pembukaan pabrik baru, dan sebagainya. Keputusan investasi ini merupakan keputusan yang dibuat pada masa sekarang namun manfaatnya baru akan dirasakan pada masa yang akan datang.
Untuk memutuskan perlu tidaknya perusahaan mengiventasikan dana yang dimiliki, pihak manajemen perusahaan perlu mengadakan penilaian terhadap usulan investasi yang diajukan. Ada berbagai macam motode penilaian investasi yang dapat digunakan dan tiap-tiap metode mempunyai kebaikan dan kelemahan masing-masing.
Berdasarkan uraian diatas, maka dalam penulisan ilmiah ini penulis mengambil judul “ANALISIS PENILAIAN INVESTASI PADA PT. IKHOYAMO BROS”.

1.2 Rumusan Masalah
Seperti telah diuraikan dalam latar belakang diatas, keputusan investasi merupakan keputusan yang dibuat pada masa sekarang dan hasilnya akan diterima pada masa yang akan datang, sehingga keputusan ini harus dilakukan secara hati-hati agar perusahaan bisa mendapatkan keuntungan dan terhindar dari kemungkinan kerugian yang akan terjadi. Oleh karena itu yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan ini adalah apakah keputusan yang diambil oleh perusahaan dalam kegiatan investasi merupakan keputusan yang tepat ?.

1.3 Batasan Masalah
Sebagaimana kita ketahui, banyak sekali metode penilaian yang dapat digunakan untuk menilai usulan-usulan investasi. Oleh karena itu dalam penulisan ini penulis membatasi pada penentuan investasi terhadap sebuah kapal barang dengan menggunakan metode net present value, internal rate of return, metode payback period dan Acounting rate of return pada PT.Ikhoyamo Bros.

1.4 Tujuan penulisan
Yang menjadi tujuan penulisan ini adalah :
Untuk mengetahui peranan metode-metode penilaian investasi dalam pengambilan keputusan investasi dan untuk mengetahui apakah keputusan yang diambil perusahaan dalam pembelian kapal diterima atau tidak .

1.5 Metodologi Penelitian
Dalam menyusun penulisan ini, penulis memperoleh data-data yang diperlukan dengan menggunakan 2 macam penulisan, yaitu :
1. Penelitian Lapangan (Field Study)
Yaitu data yang diperoleh dengan melakukan kunjungan ke perusahaan
dalam rangka memperoleh data yang dibutuhkan.
2. Studi Pustaka (Library Study)
Yaitu dengan mempelajari teori teori yang relevan dari berbagai bahan acuan pembahasan yang berhubungan dengan metode penilaian Investasi.





1.6 Sistematika penulisan
Dalam menyusun penulisan ilmiah ini, penulis menyusunnya secara sistematis ke dalam lima bab, yaitu :

BAB I Pendahuluan
Dalam bab ini berisi mengenai latar belakang masalah, pokok permasalahan, batasan masalah, tujuan penulisan, metodologi penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II Landasan Teori
Dalam bab ini berisi mengenai pengertian investasi, jenis investasi, pengertian aktiva tetap berwujud, pengertian cash and flow, pengaruh pajak penghasilan terhadap keputusan investasi.

BAB III Gambaran Umum Perusahaan
Dalam bab ini berisi mengenai sejarah singkat perusahaan, kegiatan usaha dan struktur organisasi perusahaan.

BAB IV Pembahasan dan Analisis
Dalam bab ini berisi mengenai perhitungan investasi berdasarkan kedua metode prenilaian investasi dan untuk menentukan keputusan yang harus diambil.

BAB V Penutup
Dalam bab ini dikemukakan kesimpulan dari hasil penjabaran bab terdahulu disertai saran-saran.



BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Investasi
Keputusan investasi merupakan keputusan yang dibuat pada masa sekarang namun manfaatnya baru akan dirasakan pada masa yang akan datang, sehingga keputusan ini harus dilaksanakan secara hati-hati.
Menurut Mulyadi (1993:284), investasi adalah:“Pengkaitan sumber-sumber dalam jangka panjang untuk menghasilkan laba yang akan datang”
Sedangkan menurut Mas’ud Machfoedz (1990:54), investasi adalah:“Investasi (pada barang modal) adalah penanaman uang atau aktiva lancar lain kedalam aktiva jangka panjang atau barang modal untuk kemudian dioperasikan dengan tujuan memperoleh keuntungan”
Jadi berdasarkan pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa investasi adalah usaha untuk menanamkan uang kedalam aktiva jangka panjang dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan.

2.2 Jenis Investasi
Menurut Mulyadi, investasi dapat dibagi menjadi empat golongan berikut ini:
2.2.1. Investasi uang tidak menghasilkan laba (non-profit investment)
Investasi jenis ini timbul karena adanya peraturan pemerintah atau karena syarat- syarat kontrak yang telah disetujui, yang mewajibkan perusahaan untuk melaksanakannya tanpa mempertimbangkan laba atau rugi. Misalnya karena air limbah yang telah digunakan proses produksi jika dialirkan keluar pabrik akan mengakibatkan timbulnya pencemaran lingkungan, maka pemerintah mewajibkan perusahaan untuk memasang instalasi pembersih air limbah, sebelum air tersebut dibuang keluar pabrik. Karena sifatnya merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan maka investasi jenis ini tidak memerlukan pertimbangan ekonomis sebagai kriteria untuk mengukur perlu tidaknya pengeluaran tersebut.
2.2.2 Investasi yang tidak dapat diukur labanya (non-measurable provite investment)
Investasi ini dimaksudkan untuk menaikkan laba, namun laba yang diharapkan akan diperoleh perusahaan dengan adanya investasi ini sulit untuk dihitung secara teliti. Sebagai contoh adalah pengeluaran biaya-biaya promosi produk untuk jangka panjang, biaya penelitian dan pengembangan, dan biaya program pelatihan dan pendidikan karyawan. Sulit untuk mengukur penghematan biaya (karena adanya efisien) akibat adanya program pelatihan dan pendidikan karyawan.
2.2.3 Investasi dalam penggantian ekuipmen (replacement investment)
Investasi jenis ini meliputi pengeluaran untuk penggantian mesin dan ekuipmen yang ada. Penggantian mesin dan ekuipmen biasanya dilakukan atas dasar pertimbangan adanya kenaikan produktivitas (pendapatan differensial) dengan adanya penggantian tersebut. Jika aktiva differensial berupa investasi dalam penggantian aktiva tetap akan menghasilkan kembalian investasi (return on investment) yang dikehendaki, yang berupa perbandingan antar penghematan biaya dengan investasi yang akan dilakukan, maka penggantian mesin dan ekuipmen secara ekonomis menguntungkan.
2.2.4 Investasi dalam perluasan usaha
Investasi jenis ini merupakan pengeluaran untuk menambah kapasitas produksi atau operasi menjadi lebih besar dari sebelumnya. Tambahan kapasitas akan memerlukan aktiva differensial berupa tambahan investasi dan akan menghasilkan pendapatan differensial, yang berupa tambahan pendapatan (revenues), serta memerlukan biaya differensial, yang berupa tambahan biaya karena tambahan kapasitas. Untuk memutuskan jenis investasi ini, yang perlu dipertimbangkan adalah apakah aktiva differensial yang diperlukan untuk perluasan usaha diperkirakan akan menghasilkan laba differensial ( yang merupakan selisih antara pendapatan differensial dan biaya differensial) yang jumlahnya memadai. Kriteria yang perlu di pertimbangkan adalah taksiran laba masa yang akan datang ( yang merupakan selisih pendapatan biaya) dan kembalian investasi ( return on investment ) yang akan di peroleh karena adanya investasi tersebut. Penting juga di pertimbangkan faktor resiko yang berbeda-beda untuk tiap-tiap investasi, pajak penghasilan , dan nilai waktu uang, karma ketiga faktor tersebut menentukan aliran kas ( cash flow) di massa yang akan datang .

2.3. Pengertian Aktiva tetap berwujud
Menurut Harnanto ( 1998: 501 ) , aktiva tetap berwujud adalah : “ Aktiva-aktiva yang memiliki bentuk fisik dan di pakai atau di gunakan di dalam operasi normal perusahaan seta mempunyai kegunaan relatip permaneen . “
Sedangkan menurut Mas ‘ ud Machfoedz ( 1990 : 57) , Aktiva tetap berwujud adalah : “ Kekayaan yang mempunyai nilai guna ekonomis jangka panjang dimiliki perusahan untuk menjalankan operasi guna menunjang perusahan dalam mencapai tujuan , dan dimiliki perusahan tidak untuk di jual kembali agar di peroleh laba atas penjualan tersebut “.

Didalam akuntansi , aktiva tetap berwujud di bedakan menjadi tiga golongan , yaitu :
1. Aktiva tetap yang umur atau massa kegunaanya tidak terbatas. Termasuk dalam kelompok aktiva ini adalah tanah yang di pakai sebagai tempat kedudukan bagunaan pabrik dan bagunaan kantor , Pertaniaan.
2. Aktiva tetap yang umur atau massa kegunaanya terbatas, dan dapat diganti dengan aktiva sejenis apabila massa kegunaannya telah berakhir. Termasuk dalam kelompok aktiva ini antara lain : bagunaan , mesin dan alat – alat pabrik, mebel dan alat- alat kantor, kendaran dan alat – alat transport, dsb.
3. Aktiva tetap yang umur atau masa kegunaanya terbatas, dan tidak dapat diganti dengan aktiva sejenis apabila masa kegunaanya telah habis. Termasuk dalam kelompok ini misalnya sumber – sumber alam , sepaerti tambang, hutan , dan lain- lain.

2.4. Cash Flow
Cash flow (aliran kas) yang berasal dari kegiatan investasi adalah aliran kas dari transaksi pembelian dan penjualan sekuritas utang, sekuritas ekuitas, dan aktiva tetap. Ada dua macam aliran kas yaitu:
1. Aliran kas keluar (net outflow cash), yaitu aliran kas yang diperlukan
untuk investasi baru, aliran kas keluar dari kegiatan investasi seperti:
- Pembayaran pembelian investasi jangka panjang dalam bentuk obligasi atau sekuritas ekuitas perusahaan lain.
2. Aliran kas masuk (net inflow of cash) yaitu sebagai hasil dari investasi baru tersebut, yang sering pula disebut “net cost procceds atau procceds”. Aliran kas masuk kegiatan investasi:
- Penerimaan kas dari penjualan aktiva tetap
- Penjualan investasi jangka panjang dalam bentuk obligasi atau sekuitas ekuitas perusahaan lain.
Untuk pengambilan keputusan investasi sering kali jumlah menurut catatan akuntansi tidak begitu penting, karena didalam pengeluaran-pengeluaran untuk investasi yang berhubungan dengan pengantian aktiva tetap atau membandingkan dua atau lebih aktiva tetap yang akan dibeli memerlukan hitungan-hitungan khusus yang sering menyimpang dari perhitungan-perhitungan dalam akuntansi keuangan. Misalnya, dalam perhitungan pengembalian yang digunakan adalah proceed (laba akuntansi setelah pajak ditambah dengan biaya non kas) bukan laba akuntansi. Besarnya proceed dapat dirumuskan sebagai berikut :
Proceed = (1 – TP) (PD – BDT) + BDTT
Keterangan :
PD = Pendapatan diferensial
BDT = Biaya deferensial tunai
TP = Tarif pajak
BDTT = Biaya diferensial tidak tunai, misalnya biaya depresiasi

2.5. Pengaruh Pajak Penghasilan Terhadap Keputusan Investasi
Karena keputusan investasi didasarkan pada aliran kas, maka pajak atas laba (pajak penghasilan) merupakan unsur informasi penting yang ikut dipertimbangkan dalam perhitungan aliran kas untuk pengambilan keputusan investasi diperkirakan akan mengakibatkan penghematan biaya atau tambahan pendapatan, maka disisi lain biaya diferensial (penghematan biaya) atau pendapatan deferensial (tambahan pendapatan) pendapatan ini akan mengakibatkan timbulnya laba diferensial, yang menyebabkan tambahan pajak penghasilan yang akan dibayar oleh perusahaan. Oleh karena itu dalam memeperhitungkan aliran kas keluar dari investasi, perlu diperhitungkan pula tambahan atau pengurangan pajak yang harus dibayar akibat adanya penghematan biaya atau tambahan pendapatan tersebut. Begitu sebaliknya jika suatau usulan investasi diperkirakan akan mengakibatkan kerugian (biaya diferensial lebih besar dari pendapatan diferensial), maka dampak pajak penghasilan akibat kerugian tersebut harus diperhitungkan dalam taksiran aliran kas masuk dari investasi.

2.6. Metode Penilaian Investasi
Adanya berbagai metode untuk menilai perlu tidaknya suatu investasi atau untuk memilih berbagai macam alternatif investasi, diantaranya adalah :
1. Metode Payback Period
2. Metode Net Present Value
3. Metode IRR (Internal Rate Of Return)
4. Metode ARR (Accounting Rate Of Return)
Berikut ini akan dijelaskan tentang metode-metode penilaian investasi yang akan di bahas dalam penulisan ilmiah ini :

2.6.1 Metode Payback Period
Menurut Bambang Rianto (1995;124), Payback Period adalah “Suatu periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan proceeds atau aliran kas netto (net cash flows)”.
Metode ini sering pula disebut dengan istilah lain seperti payout method. Payback period dari suatu investasi menggambarkan panjangnya waktu yang diperlukan agar dana yang tertanam pada suatu investasi dapat diperoleh kembali seluruhnya. Faktor yang menentukan penerimaan atau penolakan usulan investasi adalah jangka waktu yang diperlukan untuk menutup kembali investasi.
Rumus perhitungan payback period (dalam tahun) dapat dibagi menjadi dua kelompok :
1. Rumus perhitungan payback period yang belum memperhitungkan unsur pajak penghasilan.
Payback Period (dalam tahun) = Investasi
Laba tunai rata-rata
Pembilang yang berupa investasi merupakan aktiva diferensial yang direncanakan dalam usulan investasi perluasan usaha, dan penyebut yang berupa laba tunai merupakan pendapatan diferensial dikurangi dengan biaya diferensial tunai.
2. Rumus perhitungan payback period yang memperhitungakan unsur pajak penghasilan.
Payback period (dalam tahun) = Investasi

Proceed
Kriteria pemilihan investasi dengan menggunakan metode ini adalah sebagai berikut :
Apabila payback period dari suatu investasi lebih kecil / pendek dari periode payback maksimum, maka usulan investasi tersebut diterima. Sebaliknya kalau payback periodnya lebih panjang dari pada periode maksimum maka usulan investasi ditolak.
Kebaikan Payback Period
1. Untuk investasi yang besar resikonya dan sulit untuk diperkirakan, maka tes dengan metode ini dapat mengetahui jangka waktu yang diperlukan untuk pengambilan investasi.
2. Metode ini dapat digunakan untuk menilai dua proyek investasi yang mempunyai rate of return dan resiko yang sama, sehingga dapat dipilih investasi yang jangka waktu pengambilannya paling cepat.
3. Metode ini merupakan alat yang sederhana untuk memilih usul-usul investasi sebelum meningkat ke penilaian lebih lanjut dengan mempertimbangkan kemampuan investasi untuk menghasilkan laba seperti dalam prent value dan discounted cash flow method.
Kelemahan Payback Period
1. Metode ini tidak memperhitungkan nilai waktu uang. Uang yang diterima sekarang lebih berharga jika dibandingkan dengan uang yang akan diterima setahun lagi, karena adanya kesempatan untuk memutarkan uang tersebut untuk memperoleh kembali (retun)dalam usaha bisnis.
2. Metode ini tidak memperlihatkan pendapatan selanjutnya setelah investasi pokok kembali. Bagaimanapun juga aliran kas sesudah payback period merupakan faktor yang menentukan dalam menghitung kemampuan suatu investasi untuk menghasilkan laba.

2.6.2 Metode Net Present Value
Menurut metode ini, penerimaan kas (cash inflows) pada masa yang akan datang selama investasi berlangsung, dihitung bedasarkan nilai sekarang. Besarnya selisih antara pendapatan diferensial dengan biaya diferensial serta dampak pajak penghasilan sebagai akibat dari adanya pendapatan diferensial dan biaya diferensial selama umur ekonomis aktiva tetap tersebut, kemudian dinilai tunaikan dengan tariff kembalian tertentu.

NT = AK 1

(1 + I) n
Keterangan :
NT = Nilai tunai
AK = Aliran kas
I = Tarif kembalian investasi
n = Jangka waktu
Faktor 1 / (1 + I) n tercantum dalam suatu daftar bunga yang dibuat untuk berbagai tariff kembalian dan jangka waktu.

Kriteria pemilihan investasi dengan menggunakan metode ini adalah sebagai berikut :
Suatu usulan investasi akan diterima, jika nilai sekarang dari cash inflows lebih besar dari nilai sekarang cash out flows-nya. Dengan demikian, usulan investasi dinilai layak untuk dilaksanakan, jika nilai sekarang aliran kasnya positif.

Kebaikan metode Net Present Value
1. Metode ini memperhitungkan nilai waktu uang
2. Dalam present value method semua aliran kas selama umur proyek investasi diperhitungkan dalam pengambilan keputusan investasi

Kelemahan metode Net Present Value
1. Membutuhkan perhitungan yang cermat dalam menentukan tariff kembalian investasi
2. Dalam membandingkan dua proyek investasi yang tidak sama jumlah investasi yang ditanamkan di dalamnya, nilai tunai aliran kas bersih dalam rupiah tidak dapat dipakai sebagai pedoman

2.6.3 Metode IRR (Internal Rate of Return)
Metode Internal Rate of Return (IRR) sering disebut juga Discounted Cash Flow (DCF). Pada dasarnya Internal Rate of Return Method sama dengan Present Value Method, karena kedua-duanya memperhitungkan nilai waktu uang dimasa yang akan datang. Perbedaannya adalah dalam Present Value Method tarif kembalian (rate of return) sudah ditentukan lebih dahulu sebagai tarif kembalian. Sedangkan dalam Discounted Cash Flow Method justru tarif kembalian ini yang dihitung sebagai dasar untuk menerima atau menolak suatu usulan investasi. Oleh karena itu IRR adalah tingkat diskon (Discounted Rate) yang menyamakan nilai sekarang (present value) dari aliran kas yang akan terjadi dengan aliran kas keluar mula-mula (initial investment) pada suatu proyek investasi.
Discouted Cash Flow Method mencari pada tarif kembalian berapa aliran kas masuk bersih harus dinilaitunaikan agar supaya investasi yang ditanamkan dapat tertutup. Penentuan tarif kembalian tersebut dilakukan dengan metode coba-coba (trial and error) yaitu dengan cara :
a. Mencari nilai tunai aliran kas masuk bersih pada tarif kembalian yang dipilih secara sembarang diatas atau dibawah tarif kembalian investasi yang diharapkan.
1 Investasi
Rumus : =
( 1 + i ) n proceed

kemudian dicari dengan menggunakan niali yang mendekati angka tersebut
b. Menginterpolasikan kedua tarif kembalian tersebut untuk mendapatkan tarif kembalian sesungguhnya.


Kriteria penerimaan dengan menggunakan metode ini, jika IRR lebih besar dari rate of return yang diisyaratkan maka usulan investasi layak diterima, karena menunjukkan bahwa suatu proyek akan mendatangkan keuntungan. Sebaliknya jika IRR lebih kecil dari rate of return yang diisyaratkan maka usulan investasi tersebut ditolak, karena menunjukkan bahwa proyek tersebut mendatangkan kerugian.

Kebaikan metode IRR
Metode ini memperhitungkan nilai waktu uang

Kelemahan metode IRR
Terletak pada aturan atau kaidah IRR yang menyatakan bahwa apabila ada 2 Proyek yang mutually excluasive, maka proyek yang dipilih yang memiliki IRR lebih besar.

2.6.4 Metode ARR ( Acounting Rate of Return )
Metode accounting rate of return atau sering disebut average rate of return, menunjukkan prosentase keuntungan neto sesudah pajak dihitung dari average investment. Apabila tiga metode payback period, dan net present value mendasarkan diri dari proceeds atau cash flows, maka metode accounting rate of return ini mendasarkan diri pada keuntungan yang dilaporkan dalam buku ( reported acounting income ).

Rumus perhitungan rata-rata kembalian investasi :

Pengembalian investasi = total hasil / umur investasi
rata-rata awal investasi awal

Pengembalian investasi = total hasil / umur investasi
rata-rata investasi rata-rata

Rata-rata investasi yang digunakan sebagai pembagi dihitung dengan cara :

( Investasi awal + nilai residu ) / 2

Kriteria pemilihan investasi dengan menggunakan metode ini adalah sebagai berikut :
• Suatu investasi akan diterima jika kembalian investasinya dapat memenuhi batasan yang telah ditetapkan oleh manajemen puncak perusahaan.
• Jika pengambilan keputusan belum memiliki batsan tarif kembalian investasi, maka dari beberapa investasi yang diusulkan dipilih adalah yang memberikan tingkat kembalian yang terbesar.

Kebaikan metode ARR
Metode ini telah memperhitungkan aliran kas selama umur investasi.

Kelemahan metode ARR
1. Tidak memperhitungkan nilai waktu uang.
2. Dipengaruhi oleh penggunaan metode depresiasi.
3. Metode ini tidak dapat diterapkan jika investasi dilakukan dalam beberapa tahap.


BAB III
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

3.1 Sejarah Singkat Perusahaan
PT. IKHOYAMO BROTHERS (PT.IKHOYAMO BROS) berdiri pada akhir tahun 1998 saat Indonesia dan sebagian besar negara Asia mengalami situasi yang buruk berkenaan dengan adanya krisis ekonomi, industri perkapalan dan perniagaan maritim menghadapi ketidaktentuan kompetisi pasar dunia yang tinggi dan jumlah dari pertukaran angkutan kapal telah berpengaruh sebagai hasil dari penurunan ekonomi dunia, fenomena global dan penurunan nilai mata uang asian khususnya nilai rupiah.
Namun demikian, perusahaan ini tetap bertahan untuk tetap berjalan dan aktif bekerja keras dan menunjukkan kualitas tinggi ditengah-tengah ketetapan kebijaksaan yang tidak tetap dalam membuktikan kepada klien-klien yang membutuhkan jasa di waktu milenium baru dan prospek bisnis yang sekarang berkembang sangat pesat didalam industri perkapalan.
Organisasi dan manajemen dengan karyawan yang bekerja berorientasi propesional lebih dari 2 dasawarsa dari pembukuan yang berkelanjutan pada relasi jasa maritim.
Perkapalan dari berbagai macam komoditi yang masuk maupun keluar negeri antar negara asean telah efektif ditangani oleh perusahaan, seperti bubuk dalam curah atau dalam karung, gula, garam dlm karung atu curah, produk besi , kayu, semen, produk pertanian dan lain-lain.
Perusahaan bertujuan untuk dapat berada dalam lingkaran/lingkungan jasa maritim di negara ini dan keyakinan bahwa perusahaan ini berada dalam jalur yang benar dan secara serentak mencoba untuk terlibat dalam bagian penting pada bisnis perkapalan.

Perusahaan ini didirikan dan dipimpin oleh RIO HARAHAP yang telah berpengalaman selama 10 tahun sebagai Shipbroker dari Johs Larsen & Co., perusahan Perkapalan Norwegia dengan jabatan akhir sebagai Manajer Chartering pada akhir tahun 1997.
Selain pada chartering dengan atau bisnis sale dan purchasing world wide. PT. Ikhoyamo Bros. Bukan merupakan perusahaan yang terbaik tetapi bukan pula tidak baik dilihat dari faktanya bahwa perusahaan ini mempunyai reputasi dan dapat dipercaya oleh klien-klien penting di negara Asia/Pasific.

3.2 Kegiatan Usaha
PT. Ikhoyamo Bros adalah perusahaan jasa yang bergerak dan berkecimpung dalam berbagai kegiatan operasional yang berkaitan dengan kapal sebagai alat produksinya.
Kegiatan operasianal berupa produksi juga dapat dibagi atas dua kelompok usaha :

3.2.1 Usaha Pokok
Perkapalan
• Angkutan Barang
• Angkutan Perintis

3.2.2 Usaha Penunjang
• Keagenan:
Melayani kapal-kapal asing, Nasional dan juga flash/Lash barges
• Perbengkelan/ galangan
• Container yard




3.3 Struktur Organisasi Perusahaan
Berikut ini akan dijelaskan tugas pokok dan kewajiban dari elemen-elemen struktur organisasi kantor pusat PT. Ikhoyamo Bros adalah :
1. Dewan Komisaris
Melaksanakan kewajibannya sebagai mana tercantum dalam Akta Notaris
2. Dewan Direksi
Melaksanakan tugas dan wewenang dalam anggaran dasar perusahaan sebagaimana tercantum dalam Akta Notaris
3. Direktur Utama
Tugas pokok dan kewajiban Direktur Utama, diantaranya sebagai berikut:
Melaksanakan program pemerintah dalam sub sector perhubungan laut di seluruh wilayah Indonesia dengan memanfaatkan prasarana, sarana baik yang dimiliki perusahaan sendiri atau pihak ketiga , usaha-usaha lain yang menunjanng kegiatan perusahaan dalam pemberian jasa secara optimal, aman, teratur dan tertib.
4. Direktur Usaha
Tugas pokok dan kewajiban Direktur Usaha, diantaranya sebagai berikut:
Memimpin dan bertanggung jawab atas pelaksanaan seluruh kegiatan pada Direktorat Usaha dalam hal pengoprasian kapal-kapal,barang/charter dan perintis dalam jadwal tetap atau tidak tetap yang efisien dan ekonomis untuk dapat meraih dan meningkatkan pangsa pasar angkutan barang, penumpang dan perintis atas dasar kebijaksanaan tarip-tarip yang telah ditetapkan dengan melakukan pemasaran secara intensif, demikian pula pengelolaan kegiatan usaha–usaha penunjang berdasar efisisensi ekonomi, keseluruhan guna menjamin tingkat penghasilan usah yang optimal.
Direktorat Usaha terdiri dari :
• Divisi Kapal Barang membawahi :
- Bagian muatan dan pasasi
- Bagian operasi
• Divisi Keagenan dan Penunjang, membawahi :
- Bagian Keagenan
- Bagian usaha penunjang dan usaha lain-lain
5. Direktur Armada Tekhnik
Tugas pokok dan kewajiban Direktur Armada Tekhnik, diantaranya sebagai berikut:
Memimpin dan bertanggung jawab atas pelaksanaan seluruh kegiatan pada Direktorat Armada Tekhnik dalam hal kesiapan bagi seluruh armada / kapal perusahaan teknis, nautis dengan melengkapi segala peralatan yang diperlukan guna memenuhi persyaratan untuk mendapatka seluruh macam surat sertifikat kelengkapan, kesempurnaan kapal yang diperluka agar selalu dalam keadaan baik dengan biaya ekonomis yang wajar.
• Direktorat Armada Tekhnik terdiri dari :
Divisi Tekhnik membawahi :
• Bagian F.R.D
• Bagian pemeliharaaan
• Bagian recording
Divisi Nautika, membawahi :
• Bagian surat-surat kapal
• Bagian P-2
• Bagian T.E dan lembaga Nautika
6. Direktur Keuangan
Tugas pokok dan kewajiban Direktur Keuangan , diantaranya sebagai berikut :
Memimpin dan melaksanakan kebijaksanaan dalam merencanakan / cara pendanaan investasi perusahaan serta mengendalikan dan mengelola perusahaan dalam suatu system administrasi keuangan yang memenuhi prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku secara efektif edan efisien agar dalam penyusunan/penyiapan laporan keuangan dan corporate plan perusahaan secara luas baik untuk kepentingan intern maupun extern tepat penggarapannya.
• Direktorat Keuangan terdiri dari :
Divisi Akuntansi membawahi
• Bagian pembukuan Kantor Pusat
• Bagian pembukuan kantor cabang
• Bagian laporan keuangan
Divisi Keuangan membawahi
• Bagian keuangan
• Bagian penagihan dan pembiayaan
• Bagian Investasi
7. Direktur Personalia dan Umum
Tugas pokok dan kewajiban Direktur Personalia dan Umum, diantaranya sebagai berikut :
Mempelajari aspek pegawai/ ketenaga-kerjaan dalam kegiatan di segala bidang operasional, pemantapan gejala-gejala sikap/tingkah laku pegawai dan mengambil langkah – langkah yang realistik dalam menanggulanginya.
Divisi Administrasi Kepegawaian, membawahi :
• Bagian pegawai darat
• Bagian pegawai laut
• Bagian umum
8. Satuan Pengawasan Intern
Tugas pokok dan kewajiban Satuan Pengawasan Intern, diantaranya sebagai berikut :
Melakukan pengawasan operasional atas pelaksanaan kebijaksanaan dan ketentuan-ketentuan perusahaan baik dari segi administratif mauoun pelaksanaan kerja disemua bidang kegiatan kerja.
9. Biro Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Usaha ( BP –3 )
Tugas pokok dan kewajiban BP – 3, diantaranya sebagai berikut :
Melakukan dan menyusun rencana kerja BP – 3, baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek yang meliputi pengumpulan data seluruh usaha perusahaan dan melakukan pengolahan pengkajian data operasional atau non operasional atas produktivitas dan manfaat guna dari pengelolaan semua prasarana serta sarana persahaan untuk peningkatan dalam pengembangan kegiatan usaha dan prasarana yang memacu pada efisiensi penghematan dalam setiap kegiatan usaha sebagai suatu kebijaksaan perusahaan yang strategis.
10. Biro Pusat Pengadaan ( BPP )
Tugas pokok dan kewajiban Biro Pusat Pengadaan, diantaranya sebagai berikut :
Menyusun dan menyiapkan rencana kerja ddan anggaranbiaya BPP mengenai perencanaan pengadaan barang atas dasar pengkajian/peneliatian dari data statistik tahun-tahun silam atau permintaan dari unit-unit kerja pada Direktorat baik untuk kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang yang diseduaikan dengan sifat guna pakainya (Slow and fast moving) dalam suatu pola perawatan (plan maintenance system) yang menjadi ketetapan kebijaksanaan perusahaan.
11. Biro Direksi
Tugas pokok dan kewajiban Biro Direksi, diantaranya sebagai berikut :
Membantu dan mendukung pelaksanaan demi kelancaran tugas-tugas direksi dalam hal memimpin,mengatur,mengkoordinir, melaksanakan dan mengawasi fungsi bidang kegiatan ketatalaksanaan umum dan system kearsipan perusahaan secara luas, bidang kegiatan hubungan kemasyarakatan (humas), pengolahan data dan informasi serta pemantauan administrasi pelaporan usaha sampingan atau kegiatan lainnya yang dilimpahkan oleh direksi guna keberhasilan kegiatan usaha persuahaan.
12. Biro Hukum, Asuransi dan Claim
Tugas pokok dan kewajiban Biro Hukum, Asuransi dan Claim, diantaranya sebagai berikut :
Memberikan saran dan pendapat mengenai aspek-aspek hukum.

TEORI POPULASI DAN TEKNIK SAMPLING

Populasi atau sering juga disebut universe adalah keseluruhan atau totalitas objek yang diteliti yang ciri-cirinya akan diduga atau ditaksir (estimated). Ciri-ciri populasi disebut parameter. Oleh karena itu, populasi juga sering diartikan sebagai kumpulan objek penelitian dari mana data akan dijaring atau dikumpulkan. Populasi dalam penelitian (penelitian komunikasi) bisa berupa orang (individu, kelompok, organisasi, komunitas, atau masyarakat) maupun benda, misalnya jumlah terbitan media massa, jumlah artikel dalam media massa, jumlah rubrik, dan sebagainya (terutama jika penelitian kita menggunakan teknik analisis isi (content analysis).

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Apabila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada populasi, hal ini dikarenakan adanya keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Oleh karena itu sampel yang akan diambil dari populasi harus betul-betul representatif (dapat mewakili).


Populasi penelitian terdiri dari populasi sampling dan populasi sasaran. Populasi sampling adalah keseluruhan objek yang diteliti, sedangkan populasi sasaran adalah populasi yang benar-benar dijadikan sumber data. Sebagai contoh, misalnya kita akan meneliti bagaimana rata-rata tingkat prestasi akademik mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad dan kita hanya akan memokuskan penelitian kita pada mahasiswa yang aktif di lembaga-lembaga kemahasiswaan, maka seluruh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad adalah populasi sampling, sedangkan seluruh mahasiswa yang aktif dalam lembaga kemahasiswaan adalah populasi sasaran.

Konsep lainnya yang harus dipahami-dan tidak boleh dikelirukan- adalah jumlah populasi (population numbers) dan ukuran populasi (population size). Jumlah populasi adalah banyaknya kategori populasi yang dijadikan objek penelitian yang dinotasikan dengan huruf K. Misalnya, ketika kita meneliti tingkat rata-rata prestasi akademik mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad (Fikom Unpad), maka jumlah populasinya adalah satu, yakni kategori mahasiswa. Sementara itu, jika kita meneliti sikap sivitas akademika Fikom Unpad terhadap kebijakan rektor dalam menaikkan biaya pendidikan, maka jumlah populasinya sebanyak kategori yang terkandung dalam konsep sivitas akademika, misalnya terdiri dari kategori mahasiswa, dosen, dan staf administratif. Jadi, jumlah populasinya ada tiga. Ukuran populasi adalah banyaknya unsur atau unit yang terkandung dalam sebuah kategori populasi tertentu, yang dilambangkan dengan huruf N. Misalnya, ketika kita meneliti bagaimana rata-rata tingkat prestasi akademik mahasiswa Fikom Unpad, maka jumlah populasinya adalah satu dan ukuran populasinya 8.236 orang (sesuai dengan jumlah mahasiswa yang terdaftar resmi di Fikom Unpad).

Jika kita menggunakan seluruh unsur populasi sebagai sumber data, maka penelitian kita disebut sensus. Sensus merupakan penelitian yang dianggap dapat mengungkapkan ciri-ciri populasi (parameter) secara akurat dan komprehensif, sebab dengan menggunakan seluruh unsur populasi sebagai sumber data, maka gambaran tentang populasi tersebut secara utuh dan menyeluruh akan diperoleh. Oleh karena itu, sebaik-baiknya penelitian adalah penelitian sensus. Namun demikian, dalam batas-batas tertentu sensus kadang-kadang tidak efektif dan tidak efisien, terutama jika dihubungkan dengan ketersedian sumber daya yang ada pada peneliti. Misalnya, bila dikaitkan dengan fokus penelitian, keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya yang dimiliki oleh peneliti.

Dalam keadaan peneliti tidak memungkinkan untuk melakukan sensus, maka peneliti boleh mengambil sebagian saja dari unsur populasi untuk dijadikan objek penelitiannya atau sumber data. Sebagian unsur populasi yang dijadikan objek penelitian itu disebut sampel. Sampel atau juga sering disebut contoh adalah wakil dari populasi yang ciri-cirinya akan diungkapkan dan akan digunakan untuk menaksir ciri-ciri populasi. Oleh karena itu, jika kita menggunakan sampel sebagai sumber data, maka yang akan kita peroleh adalah ciri-ciri sampel bukan ciri-ciri populasi, tetapi ciri-ciri sampel itu harus dapat digunakan untuk menaksir populasi. Ciri-ciri sampel disebut statistik. Sama halnya dengan populasi, dalam sampel pun ada konsep jumlah sampel dan ukuran sampel. Jumlah sampel adalah banyaknya kategori sampel yang diteliti yang dilambangkan dengan huruf k, yang jumlahnya sama dengan jumlah populasi (k=K). Sedangkan ukuran sampel (dilambangkan dengan huruf n) adalah besarnya unsur populasi yang dijadikan sampel, yang jumlahnya selalui lebih kecil daripada ukuran populasi (n
Karena data yang diperoleh dari sampel harus dapat digunakan untuk menaksir populasi, maka dalam mengambil sampel dari populasi tertentu kita harus benar-benar bisa mengambil sampel yang dapat mewakili populasinya atau disebut sampel representatif. Sampel representatif adalah sampel yang memiliki ciri karakteristik yang sama atau relatif sama dengan ciri karakteristik populasinya. Tingkat kerepresentatifan sampel yang diambil dari populasi tertentu sangat tergantung pada jenis sampel yang digunakan, ukuran sampel yang diambil, dan cara pengambilannya. Cara atau prosedur yang digunakan untuk mengambil sampel dari populasi tertentu disebut teknik sampling.


Teknik Sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Terdapat berbagai teknik sampling untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian. Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu probability sampling dan non probability sampling.



UKURAN SAMPEL

Ukuran sampel atau besarnya sampel yang diambil dari populasi, sebagaimana diungkapkan di atas, merupakan salah satu faktor penentu tingkat kerepresentatifan sampel yang digunakan. Pertanyaannya, berapa besar sampel harus diambil dari populasi agar memenuhi syarat kerepresentatifan?

Dalam menentukan menentukan ukuran sampel (n) yang harus diambil dari populasi agar memenuhi persyaratan kerepresentatifan, tidak ada kesepakatan bulat di antara para ahli metodolologi penelitian (hal ini wajar, sebab dalam dunia ilmu yang ada adalah sepakat untuk tidak sepakat asal masing-masing konsisten dengan rujukan yang digunakannya, sehingga ilmu itu bisa terus berproses dan berkembang). Pada umumnya, buku-buku metodologi penelitian menyebut angka lima persen hingga 10 persen untuk menegaskan berapa ukuran sampel yang harus diambil dari sebuah populasi tertentu dalam penelitian sosial. Pendapat ini tentu saja sulit untuk dijelaskan apa alasannya jika ditinjau dari aspek metodologi penelitian.

Sehubungan dengan hal itu, I Gusti Bagoes Mantra dan Kasto dalam buku yang ditulis oleh Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survai (1989), menyatakan bahwa sebelum kita menentukan berapa besar ukuran sampel yang harus diambil dari populasi tertentu, ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan yaitu:
1. Derajat Keseragaman Populasi (degree of homogenity). Jika tinggi tingkat homogenitas populasinya tinggi atau bahkan sempurna, maka ukuran sampel yang diambil boleh kecil, sebaliknya jika tingkat homogenitas populasinya rendah (tingkat heterogenitasnya tinggi) maka ukuran sampel yang diambil harus besar. Untuk menentukan tingkat homogenitas populasi sebaiknya dilakukan uji homogenitas dengan menggunakan uji statistik tertentu.
2. Tingkat Presisi (level of precisions) yang digunakan. Tingkat presisi, terutama digunkan dalam penelitian eksplanatif, misalnya penelitian korelasional, yakni suatu pernyataan peneliti tentang tingkat keakuratan hasil penelitian yang diinginkannya. Tingkat presisi biasanya dinyatakan dengan taraf signifikansi (α) yang dalam penelitian sosial biasa berkisar 0,05 (5%) atau 0,01 (1%), sehingga keakuratan hasil penelitiannya (selang kepercayaannya) 1–α yakni bisa 95% atau 99%. Jika kita menggunakan taraf signifikansi 0,01 maka ukuran sampel yang diambil harus lebih besar daripada ukuran sampel jika kita menggunakan taraf signifikansi 0,05.
3. Rancangan Analisis. Rancangan analisis yang dimaksud adalah sesuatu yang berkaitan dengan pengolahan data, penyajian data, pengupasan data, dan penafsiran data yang akan ditempuh dalam penelitian. Misalnya, kita akan menggunkan teknik analisis data dengan statistik deskripti; penyajian data menggunakan tabel-tabel distribusi frekuensi silang (tabel silang) atau tabel kontingensi dengan ukuran 3X3 atau lebih dimana pasti mengandung sel sebanyak 9 buah, maka ukuran sampelnya harus besar. Hal ini untuk menghindarkan adanya sel dalam tabel tersebut yang datanya nol (kosong), sehingga tidak layak untuk dianalisis dengan asumsi-asumsi kotingensi. Jika kita menggunakan rancangan analisisnya hanya menggunakan analisis statistik inferensial, maka ukuran sampelnya boleh lebih kecil dibandingkan apabila kita menggunakan rancangan analisis statistik deskriptif saja. Dengan kata lain, rancangan penelitian deskriptif membutuhkan ukuran sampel yang lebih besar daripada rancangan penelitian eksplanatif.
4. Alasan-alasan tertentu yang berkaitan dengan keterbatasan-keterbatasn yang ada pada peneliti, misalnya keterbatasan waktu, tenaga, biaya, dan lain-lain. (Catatan: Alasan ke-4 ini jangan digunakan sebagai pertimbangan utama dalam menentukan ukuran sampel, sebab hal ini lebih berkaitan dengan pertimbangan peneliti (tanpa akhiran an) dan bukan pertimbangan penelitian (metodologi).

Selain mempertimbangkan faktor-faktor di atas, beberapa buku metode penelitian menyarankan digunakannya rumus tertentu untuk menentukan berapa besar sampel yang harus diambil dari populasi. Jika ukuran populasinya diketahui dengan pasti, Rumus Slovin di bawah ini dapat digunakan.





Rumus Slovin:
N
n = ———
1 + Ne²
Keterangan;
n = ukuran sampel
N = ukuran populasi
e = kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang ditololerir, misalnya 5%.
Batas kesalahan yang ditolelir ini untuk setiap populasi tidak sama, ada yang 1%, 2%, 3%, 4%,5%, atau 10%.

Jika ukuran populasinya besar yang didapat dari pendugaan proporsi populasi, maka Rumus Yamane yang harus digunakan.

N
n = ———–
Nd² + 1

d = batas toleransi kesalahan pengambilan sampel yang digunakan.

Misalnya, kita ingin menduga proporsi pembaca koran dari populasi 4.000 orang. Presisi ditetapkan di antara 5% dengan tingkat kepercayaan 95%, maka besarnya sampel adalah:
4000
n = ————————- = 364
4000 x (0,05)² + 1


KERANGKA SAMPLING (SAMPLING FRAME)

Di atas sudah ditegaskan, bahwa tingkat krepresentatifan sampel selain ditentukan oleh ukuran sampel yang diambil juga ditentukan oleh teknik sampling yang digunakan. Di antara teknik-teknik sampling tersebut, dalam penggunaannya, ada yang mempersyaratkan tersedianya kerangka sampling. Kerangka sampling (sampling frame) adalah sebuah daftar yang memuat data mengenai seluruh unit atau unsur sampling yang terdapat pada populasi sampling. Secara gampang orang sering mengatakan, kerangka sampling adalah daftar nama-nama yang kerkandung dalam populasi penelitian.


JENIS SAMPEL DAN TEKNIK SAMPLING

Berdasarkan prosedur atau cara yang digunakan dalam mengambil sampel dari populasi (teknik sampling), kita dapat mengidentifikasi dua jenis sampel, yaitu: sampel probabilitas (probability sampling) dan sampel nonprobabilitas (nonprobability sampling). Sampel probabilitas atau disebut juga sampel random (sampel acak) adalah sampel yang pengambilannya berlandaskan pada prinsip teori peluang, yakni prinsip memberikan peluang yang sama kepada seluruh unit populasi untuk dipilih sebagai sampel. Sebaliknya, sampel nonprobabilitas atau sampel nonrandom (sampel tak acak) adalah sampel yang pengambilannya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu (bisa pertimbangan penelitian maupun pertimbangan peneliti). Sampel probabilitas diambil dengan menggunakan teknik sampling probabilitas atau teknik sampling random, sedangkan untuk mengambil sampel nonprobabilitas atau sampel nonrandom digunakan teknik sampling nonprobabilitas, yakni pertimbangan-pertimbangan tertentu. Sampel probabilitas cenderung memiliki tingkat representasi yang lebih tinggi daripada sampel nonprobabilitas.


Teknik Sampling Probabilitas (Teknik Sampling Random)

a. Teknik Sampling Random Sederhana (Simple Random Sampling)

Sampel acak sederhana adalah sebuah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga setiap unit penelitian atau satuan elementer dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Peluang yang dimiliki oleh setiap unit penelitian untuk dipilh sebagai sampel sebesar n/N, yakni ukuran sampel yang dikehendaki dibagi dengan ukuran populasi.

Dalam menggunakan Teknik Sampling Random Sederhana ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain (Singarimbun dan Effendy, 1989):
1. Harus tersedia kerangka sampling atau memungkinkan untuk dibuatkan kerangka samplingnya (dalam kerangka sampling tidak boleh ada unsur sampel yang dihitung dua kali atau lebih).
2. Sifat populasinya harus homogen, jika tidak, kemungkinan akan terjadi bias.
3. Ukuran populasinya tidak tak terbatas, artinya harus pasti berapa ukuran populasinya.
4. Keadaan populasinya tidak terlalu tersebar secara geografis.

Teknis pelaksanaannya ada dua cara, yakni:
1. Dengan mengundi unsur-unsur penelitian atau satuan-satuan elementer dalam populasi. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyusun semua unit penelitian atau unit elementer ke dalam kerangka sampling, mulai dari nomor terkecil hingga nomor ke-n (tergantung berapa besar ukuran populasinya). Selanjutnya masing-masing nomor unsur populasi itu ditulsikan dalam secarik kertas, digulung, dan dimasukkan ke dalam sebuah kotak atau toples. Lalu lakukan pengocokan secara merata, dan ambil sejumlah gulungan kertas tersebut sebanyak ukuran sampel yang dikehendaki. Nomor-nomr yang terambil itu menjadi unit elementer yang terpilih sebagai sampel. Pengundian juga dapat dilakukan seperti halnya ibu-ibu anggota kelompok arian menentukan pemenang arisannya. Gulungan kertas yang di dalamnya sudah berisi nomor unit elementer, dimasukkan ke dalam toples yang diberi tutup dengan lubang sebesar kira-kira dapat dilalui oleh setiap gulungan kertas yang ada di dalamnya. Lalu kocok berulang-ulang hingga keluar sejumlah gulungan kertas sesuai dengan ukuran sampel yang direncanakan. Penggunaan cara ini (cara pengundian) seringkali tidak praktis, terutama apabila ukuran populasinya relatif besar, sebab: pertama, hampir tidak mungkin kita dapat melakukan pengocokan secara saksama dan merata seluruh gulungan kertas undian; dan kedua, ada kecenderungan kita untuk tergoda memilih angka-angka tertentu. Dalam keadaan yang demikian, gunakan teknik kedua, yakni dengan mengundi Tabel Angka Random.

2. Dengan menggunakan Tabel Angka Random. Cara ini dipilih karena selain meringankan pekerjaan, juga lebih memberikan jaminan yang lebih besar bahwa setiap unit elementer mempunyai peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Caranya adalah sebagai berikut: misalnya, dari satuan elementer dlam populasi (N) yang besarnya 500 orang, akan dipilih 50 satuan elementer sebagai sampel (n). Bilangan 500 ini terdiri dari tiga dijit (digit), oleh karena itu dalam kerangka sampling satuan elementernya diberi nomor mulai dari 001 sampai 500. Selanjutnya lihat Tabel Angka Random atau Tabel Bilangan Random yang selalu ada pada lampiran buku-buku metodologi penelitian atau buku-buku metode statistika. Karena angka-angka yang yang terdapat dalam Tabel Bilangan Random itu disusun secara kebetulan (randomly assorted), maka pemakai tabel tersebut dapat mulai melihatnya dari baris dan kolom mana saja. Di samping itu, ia dapat juga mengikutinya ke arah mana saja. Penentuan angka pertama dapat dilakukan, misalnya, dengan cara menjatuhkan pensil dengan mata pensil mengarah ke bawah pada lembaran kertas yang di dalamnya terdapat tabel bilangan random yang kita gunakan. Angka random yang terkena oleh mata pensil tadi adalah unsur sampel pertama yang kita pilih. Selanjutnya, kita dapat menentukan unsur sampel lainnya dengan cara berjalan ke atas mengikuti kolom yang sama, atau ke samping mengikuti baris, ke bawah mengikuti kolom, atau cara apa saja yang dianggap mudah.

b. Teknik Sampling Random Sistematik (Systematic Random Sampling)

Apabila ukuran populasinya sangat besar, hingga tidak memungkinkan dilakukan pemilihan sampel dengan cara pengundian, maka teknik sampling random sederhana tidaklah tepat untuk digunakan. Dalam keadaan populasi yang demikian, gunakanlah teknik sampling random sistematik. Persyaratan yang harus dipenuhi agar teknik sampling ini dapat digunakan, sama dengan persyaratan untuk sampel random sederhana, yakni tersedianya kerangka sampling (ukuran populasinya diketahui dengan pasti), dan populasinya mempunyai pola beraturan yang memungkinkan untuk diberikan nomor urut serta bersifat homogen.

Cara penggunaan teknik sampling random sistematik ini mirip dengan cara sampling random sederhana. Bedanya, pada teknik sampling sistematik perandoman atau pengundian hanya dilakukan satu kali, yakni ketika menentukan unsur pertama dari sampling yang akan diambil. Penentuan unsur sampling selanjutnya ditempuh dengan cara memanfaatkan interval sampel. Interval sampel adalah angka yang menunjukkan jarak antara nomor-nomor urut yang terdapat dalam kerangka sampling yang akan dijadikan patokan dalam menentukan atau memilih unsur-unsur sampling kedua dan seterusnya hingga unsur ke-n. Interval sampel biasanya dilambangkan dengan huruf k.

Interval sampel atau juga disebut sampling rasio diperoleh dengan cara membagi ukuran populasi dengan ukuran sampel yang dikehendaki (N/n). Misalnya, dari populasi (N) berukuran 500 kita akan mengambil sampel (n) berkuran 50, maka interval samplingnya adalah 500/50=10 atau k =10. Andaikan yang terpilih sebagai unsur sampling pertama adalah satuan elementer yang bernomor s, maka penentuan unsur-unsur sampel berikutnya adalah:

Unsur pertama = s
Unsur kedua = s + k
Unsur ketiga = s + 2k
Unsur keempat = s + 3k, dan seterusnya hingga unsur ke-n.

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini diberikan contoh konkret.
Misalnya ukuran populasinya 500 (N=500) dan ukuran sampel yang akan diambil sebesar 50 (n=50), maka pasti k = 10. Andaikan saja unsur sampel pertama yang terpilih adalah nomor urut 005, maka unsur-unsur selanjunya yang harus diambil adalah nomor 015, 025, 035, 045, 055, 065, 075, dan seterusnya dengan berpatokan pada penambahan angka 10 dari nomor urut terakhir.


c. Teknik Sampling Random Berstrata (Stratified Random Sampling)

Teknik sampling ini digunakan apabila populasinya tidak homogen (heterogen). Makin heterogen suatu populasi, makin besar pula perbedaan sifat-sifat antara lapisan tersebut. Padahal, sebagaimana telah diungkapkan di atas, presisi dan tingkat kerepresentatifan sampel yang diambil dari suatu populasi antara lain dipengaruhi oleh derajat keseragaman (tingkat homogenitas) populasi yang bersangkutan. Untuk dapat menggambarkan secara tepat tentang sifat-sifat populasi yang heterogen, maka populasi yang bersangkutan harus dibagi-bagi kedalam lapisan-lapisan (strata) yang seragam atau homogen, dan dari setiap strata dapat diambil sampel secara random (acak).

Untuk dapat menggunakan teknik sampling random strata, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain (Singarimbun dan Effendi, 1989:162-163):
1. Harus ada kriteria yang jelas yang akan dipergunakan sebagai dasar untuk menstratifikasi populasi ke dalam lapisan-lapisan. Sebagai contoh, populasi penelitian Anda adalah seluruh mahasiswa Unpad. Dalam kenyataannya karakteristik mahasiswa Unpad tidak sama (tidak homogen) sebab di Unpad terdapat program pendidikan jenjang D3, S1, S2, dan S3 yang tentu saja karakteristik (terutama karakteristik akademisnya) berbeda-beda. Maka dalam keadaan populasi yang demikian, mahasiswa Unpad sebagai populasi harus dibagi kedalam strata (subpopulasi) mahasiswa D3, mahasiswa S1, mahasiswa S2, dan mahasiswa S3. Secara teoretis, yang dapat dijadikan kriteria untuk pembagian strata itu ialah variabel-variabel yang akan diteliti atau variabel-variabel yang menurut peneliti mempunyai hubungan yang erat dengan variabel-variabel yang hendak diteliti itu. Misalnya, tingkat motivasi belajar mahasiswa erat kaitannya dengan jenjang pendidikan yang diikutinya. Jadi, dalam penelitian tentang motivasi belajar mahasiswa (misalnya), jenjang pendidikan dijadikan dasar dalam menentukan strata populasi.
2. Harus ada data pendahuluan dari populasi mengenai kriteria yang dipergunakan untuk menstratifikasi. Misalnya, data mengenai pembagian jenjang pendidikan pada mahasiswa Unpad didasarkan pada kenyataan bahwa di Unpad memang terdapat berbagai jenjang pendidikan.
3. Jumlah satuan elementer dari setiap strata (ukuran setiap subpopulasi) harus diketahui dengan pasti. Hal ini diperlukan agar peneliti dapat membuat kerangka sampling untuk setiap subpopulasi atau strata yang akan dijadikan sumber dalam menentukan sampel atau responden. (Harap dicatat, bahwa teknik sampling random strata ini baru efektif dalam menentukan ukuran sampel yang harus diambil dari setiap strata dan belum mampu menentukan siapa saja sampel yang harus diambil untuk dijadikan responden penelitian). Untuk menentukan saampel sasaran atau responden masih perlu dilanjutkan dengan menggunakan teknik sampling random sederhana atau teknik sampling random sistematik, setelah sebelumnya dibuatkan kerangka sampling untuk setiap subpopulasinya.

Sampel strata terdiri dari dua macam, yakni sampel strata proporsional dan sampel strata disproporsional. Teknik sampling random strata proporsional digunakan apabila proporsi ukuran subpopulasi atau jumlah satuan elementer dalam setiap strata relatif seimbang atau relatif sama besar. Dalam sampel strata proporsional, dari setiap strata diambil sampel yang sebanding dengan besar setiap strata dengan berpatokan pada pecahan sampling (sampling fraction) yang sama yang digunakan. Pecahan sampling adalah angka yang menunjukkan persentase ukuran sampel yang akan diambil dari ukuran populasi tertentu. Sebagai contoh, jumlah keseluruhan mahasiswa Unpad ada 25.000 orang, sehingga ukuran populasinya 25.000. Berdasarkan perhitungan tertentu, misalnya kita menggunakan Rumus Slovin, sampel yang harus diambil sebesar 2.500 orang mahasiswa, maka pecahan samplingnya adalah 0,10 (10%) yang diperoleh dengan cara membagi ukuran sampel yang dikehendaki dengan ukuran populasinya (n/N). Dengan demikian, maka dari setiap lapisan populasi (strata) harus diambil sampel sebesar 10 % sehingga akhirnya diperoleh ukuran sampel secara keseluruhan yang merepresentasikan populasi. Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel di bawah ini.

Tabel 1
Sampel Berstrata Proporsional untuk Penelitian Motivasi Belajar
di Kalangan Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Jenjang Ukuran % dalam Pecahan n % dalam
Pendidikan Populasi Populasi Sampling Sampel Sampel
D3 10.000 40% 0,10 1.000 40%
S1 8.000 32% 0,10 800 32%
S2 5.000 20% 0,10 500 20%
S3 2.000 8% 0,10 200 8%
_______ ______ ______ _____
25.000 100% 2.500 100%
Keterangan:
•Ditentukan ukuran sampel 2.500
•Pecahan sampling 2.500/25.000 = 0,10
•Setiap jenjang pendidikan diwakili dalam sampel proporsinya dalam populasi.

Penggunaan Teknik Sampling Random Strata Proporsional agak kurang tepat jika proporsi ukuran subpopulasinya (jumlah satuan elementer pada strata) tidak seimbang, ada yang jumlahnya besar ada pula yang jumlahnya kecil, sehingga kalau digunakan teknik sampling strata proporsional dapat kejadian ukuran subpopulasinya sama dengan ukuran sampelnya. Padahal, jika ukuran sampelnya sama dengan ukuran populasinya (total sampling atau sensus) maka data yang diperoleh dari sampel tersebut tidak bisa diolah atau dianalisis dengan menggunakan analisis statistik inferensial. Oleh karena itu, dalam keadaan populasi yang demikian, gunakanlah Teknik Sampling Random Strata Disproporsional.

Pada Sampel Strtata Disproporsional, ukuran sampel yang diambil dari setiap subpopulasi (strata) sama besarnya, yang berbeda adalah pecahan samplingnya. Satu hal yang perlu dicatat dan diingat, jika menggunakan teknik sampling ini, nanti pada waktu analisis data, data yang diperoleh dari sampel masing-masing strata harus dikalikan dengan bobot yang disesuaikan pada strata tersebut. Teknis pengambilan sampel strata disproporsional dapat dilihat pada contoh tabel di bawah ini.

Tabel 2
Sampel Berstrata Disproporsional untuk Penelitian Motivasi Belajar
di Kalangan Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Jenjang Ukuran % dalam Pecahan n Bobot Bobot
Pendidikan Populasi Populasi Sampling Sampel Disesuaikan
D3 10.000 40% 0,063 625 15,87 5
S1 8.000 32% 0,078 625 12,82 4
S2 5.000 20% 0,125 625 8 3
S3 2.000 8% 0,313 625 3,19 1
_______ _____ _____
25.000 100% 2.500

Keterangan:
•Ukuran sampel ditetapkan 2500, dibagi rata pada setiap strata (625).
•Pecahan sampling berbeda-beda pada setiap strata (n/N).
•Karena sampel setiap strata tidak proporsional dengan strata yang bersangkutan dalam populasi, maka data pada setiap strata harus dikalikan dengan bobot (bobot yang disesuaikan). Bobot diperoleh dengan rumus: 1/ps atau satu dibagi pecahan smpling. Untuk memudahkan perhitungan, bobot dibulatkan dengan angka terrendah sebagai standar (bernilai 1). Misalnya, 15,87/3,19 = 4,97, dibulatkan menjadi 5.


d. Teknik Sampling Random Klaster (Cluster Random Sampling)

Teknik ini digunakan apabila ukuran populasinya tidak diketahui dengan pasti, sehingga tidak memungkinkan untuk dibuatkan kerangka samplingnya, dan keberadaannya tersebar secara geografis atau terhimpun dalam klaster-klaster yang berbeda-beda. Misalnya, populasi puah penelitian kita adalah seluruh murid Sekolah Dasar (SD) yang ada di Wilayah Kota Bandung. Tidak mungkin kita dapat menghimpun semua data anak SD dalam sebuah daftar yang akurat, kalaupun mungkin, pasti daftar itu akan sangat panjang dan memerlukan waktu serta biaya yang tidak sedikit untuk menyusunnya. Maka kelompok siswa SD itu kita buat berdasarkan nama sekolahnya. Kelompok anak SD itu disebut klaster. Klater dapat berupa sekolah, kelas, kecamatan, desa, kelurahan, RW, RT, dan sebagainya. Apabila klaster itu bersifat wilayah geografis yang kecil, maka pengambilan sampelnya dapat dilakukan satu tahap (simple cluster sampling). Misalnya, wilayah penelitian kita ada di Kelurahan Gunung Sampah, yang terdiri dari 10 RW, maka kita dapat memilih beberapa RW secara random untuk dijadikan wilayah penelitian dengan konsekuensi seluruh penduduk sasaran di RW itu harus dijadikan sampel (responden).

Akan tetapi jika klasternya besar atau wilayah geografisnya besar, maka pengambilan sampel tidak cukup hanya satu tahap, melainkan harus beberapa tahap. Dalam keadaan yang demikian gunakanlah teknik sampling klaster banyak tahap (multistage cluster sampling). Misalnya kita akan meneliti pendapat seluruh ibu rumah tangga yang ada di wilayah Kota Bandung tentang konversi bahan bakar minyak tanah ke gas elpiji. Populasi penelitiannya adalah seluruh ibu rumah tangga yang ada di Kota Bandung. Kota Bandung kita bagi dulu ke dalam Wilayah Bandung Timur, Bandung, Barat, Bandung Selatan, dan Bandung Utara. Dari setiap wilayah itu kita jabarkan lagi pada kecamatan-kecamatan, lalu ambil secara random, misalnya, dua kecamatan dari setiap wilayah sehingga diperoleh delapan kecamatan. Apabila kita berhenti sampai di sini, maka seluruh ibu rumah tangga yang berdomisi di delapan kecamatan terpilih itu adalah sampel penelitian kita. Tetapi jika kita merasa jumlahnya masih terlalu besar, maka kita boleh menjabarkan wilayah kecamatan terpilih itu menjadi kelurahan-kelurahan, sehingga wilayah kecamatan tadi kita jadikan populasi sampling. Dari situ secara random, misalnya, kita ambil dua kelurahan dri setiap kecamatan terpilih, sehingga kita memiliki 16 kelurahan sebagai wilayah penelitian dengan konsekuensi seluruh ibu rumah tangga di 16 kelurahan itu harus dijadikan responden. Jika dirasakan masih terlalu banyak jumlahnya, kita diperbolehkan untuk menurunkan lagi wilayah penelitian pada wilayah yang lebih kecil, misalnya RW, dan seterusnya dengan cara yang sama.


Teknik Sampling Nonprobabilitas (Teknik Sampling Nonrandom)

Dalam menentukan sampel dengan menggunakan taknik sampling nonrandom, tidak menggunakan prinsip kerandoman (prinsip teori peluang). Dasar penentuannya adalah pertimbangan-pertimbangan tertentu dari peneliti atau dari penelitian. Sebagai konsekuensinya, teknik sampling nonrandom ini tidak dapat digunakan apabila penelitian kita dirancang sebagai sebuah penelitian eksplanatif yang akan menguji hipotesis tertentu, misalnya penelitian korelasional, karena rumus uji statistik inferensial tidak dapat diterapkan untuk data yang berasal dari sampel nonrandom. Teknik sampling ini secara luas sering digunakan untuk penelitian-penelitian eksploratif atau penelitian deskriptif.

Ada beberapa jenis sampel nonrandom yang sering digunakan dalam penelitian sosial/penelitian komunikasi, di antaranya adalah:
1. Sampel Aksidental (accidental sampling). Sampel ini sering disebut sebagai sampel kebetulan yang pengambilannya didasarkan pada pertimbangan kemudahan bagi peneliti (bukan penelitian), sehingga sampel ini sering kali disebut convenience sampling atau sampel keenakan. Orang-orang ilmu statistika bahkan menyebutnya sebagai sampel kecelakaan, karena saking tidak representatifnya sampel tersebut. Sebisa mungkin, hindari untuk menggunakan sampel ini, jika kesimpulan penelitian kita ingin memperoleh kemampuan generalisasi yang tepat.

2. Sampel Kuota (quota sampling). Teknik sampling kuota merupakan teknik sampling yang sejenis dengan teknik sampling strata. Perbedaannya adalah ketika mengambil sampel dari setiap strata tidak menggunakan cara-cara random, tetapi menggunakan cara-cara kemudahan (convenience). Caranya, tentukan ukuran sampel dari masing-masing strata lalu teliti siapa sejumlah orang yang sesuai dengan ukuran sampel yang ditentukan tadi, siapa saja asal berasal dari strata tersebut.

3. Sampel Purposif (purposeful sampling). Teknik ini disebut juga judgemental sampling atau sampel pertimbangan bertujuan. Dasar penetuan sampelnya adalah tujuan penelitian. Sampel ini digunakan jika dalam upaya memperoleh data tentang fenomena atau masalah yang diteliti memerlukan sumber data yang memilki kualifikasi spesifik atau kriteria khusus berdasarkan penilaian tertentu, tingkat signifikansi tertentu. Misalnya, untuk meneliti kualitas cerita Film Ayat-ayat Cinta kita memerlukan reponden yang memiliki kualifikasi komptensi dalam bidang perfilman atau bidang komunikasi. Maka sampelnya adalah para kritikus film, para dosen produksi film, para ahli sinematografi, dan lain-lain.


Beberapa Masalah dalam Penelitian yang Berkaitan dengan Sampel

Dalam setiap penelitian, tidak tertutup kemungkinan untuk terjadi permasalahan atau penyimpangan. Besarnya penyimpangan yang dapat ditoleransi dalam suatu penelitian, tergantung pada sifat penelitian itu sendiri. Ada penelitian yang dapat mentolerannsikan penyimpangan yang besar; sebaliknya ada juga penelitian yang menghendaki penyimpangan yang kecil, sebab penyimpangan yang besar dapat menimbulkan kesimpulan yang salah.

Dalam suatu penelitian, ada kemungkinan timbul dua macam penyimpangan, yaitu:

1. Penyimpangan karena Pemakaian Sampel (Sampling Error)
Seandainya tidak ada kesalahan pada pengamatan, satuan-satuan ukuran, definisi operasinal variabel, pengolahan data, dan sebagainya, maka perbedaan itu hanya disebabkan oleh pemakaian sampel. Mudah dimengerti bahwa semakin besar sampelnyang diambil, semakin kecil pula terjadi penyimpangan. Apabila sampel itu sudah sama besar dengan populasi, maka penyimpangan oleh pemakaian sampel pasti akan hilang.


2. Penyimpangan Bukan oleh Pemakaian Sampel (Non-Sampling Error)
Jenis penyimpangan ini dapat ditimbulkan oleh berbagai hal, di antaranya adalah:
•Penyimpangan karena kesalahan perencanaan. Misalnya karena tidak tepatnya definisi operasional variabel, kriteria satuan-satuan ukuran, dan sebagainya, memberikan peluang penyimpangan atau kesalahan pada hasil penelitian.
•Penyimpangan karena Penggantian Sampel. Hal ini berkaitan dengan adanya perbedaan antara sampel yang diteliti dengan sampel yang ditetapkan. Misalnya, seseorang mahasiswa yang telah ditetapkan sebagai sampel tidak bisa dihubungi pada waktu akan diwawancarai atau diminta untuk mengisi kuesioner, lalu kita menggantinya dengan mahasiswa yang lain.
•Penyimpangan karena salah tafsir dari petugas pengumpulan data maupun responden, yang dapat menyebabkan jawaban yang diperoleh dari responden menyimpang dari yang sebenarnya.
•Penyimpangan karena salah tafsir responden. Biasanya disebabkan karena responden sudah lupa akan masalah yang ditanyakan.
•Penyimpangan karena responden sengaja salah dalam menjawab pertanyaan. Hal ini dapat terjadi jika responden merasa curiga terhadap maksud dan tujuan penelitian, atau mungkin juga responden mempunyai maksud-maksud tertentu secara terselubung.
•Penyimpangan karena kesalahan pengolahan data, misalnya salah dalam menambahkan, mengalikan, dan sebagainya.

Sementara itu, masalah yang dihadapi dalam Pembuatan Kerangka Sampling, di antaranya adalah sebagai berikut:
•Blank Foreign Elements
Yakni jika data populasi yang diperoleh dari sesuatu sumber tidak sesuai dengan kenyataannya di lapangan, sehingga terjadi orang yang sudah terpilih sebagai sampel tidak ditemui di lapangan. Hal ini disebabkan mungkin karena pendataannya yang tidak akurat atau datanya sudah kadaluarsa.

•Incomplete Frame
Ketidaklengkapan kerangka sampling terjadi karena ada unsur populasi (orang) yang seharusnya masuk di dalamnya, justeru tidak tercatat.

•Cluster of Elements
Kerangka sampling yang kita miliki tidak selamanya sama dengan yang kita butuhkan. Misalnya, jika kita ingin meneliti pelajar sekolah dasar yang bertempat tinggal di Kota A, kita tidak akan memperoleh daftarnya, yang kita temukan hanyalah daftar nama sekolah dasar yang ada di Kota A.



Sumber :
http://dankfsugiana.wordpress.com/2008/07/08/populasi-dan-teknik-sampling/

Rabu, 31 Maret 2010

contoh penelitian deskriptif

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MAHASISWA
AKUNTANSI TERHADAP KONSISTENSI PILIHAN
KARIR DIBIDANG AKUNTANSI
(Studi Empiris Pada Perguruan Tinggi Swasta Di Surakarta Tahun 2008)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat Guna Mencapai
Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Pada Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Disusun oleh :
Setiyo Arys Nugroho
B 200 020 061
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2008
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Globalisasi yang melanda dunia saat ini, mau tidak mau menuntut
setiap orang, instansi, maupun suatu negara untuk menghadapi kompetisi
kehidupan global yang semakin ketat. Termasuk didalamnya adalah tuntutan
persaingan tenaga kerja untuk mengisi setiap peluang kerja yang semakin
kecil. Ketatnya persaingan tenaga kerja ini dipicu oleh tidak berimbangnya
jumlah tenaga kerja dengan jumlah peluang kerja yang tersedia.
Saat ini, semakin banyak bermunculan perguruan tinggi terutama
swasta dengan berbagai jurusan baik untuk jenjang S1, Diploma, atau yang
non gelar. Hal ini merupakan kewajaran karena lulusan siswa SLTA semakin
banyak dan yang berminat untuk melanjutkan kuliah juga meningkat,
sedangkan kapasitas penerimaan mahasiswa yang terbatas baik di perguruan
tinggi negeri maupun swasta favorit. Banyaknya jumlah lulusan perguruan
tinggi, maka persaingan untuk mendapatkan pekerjaan akan semakin ketat dan
membutuhkan tenaga kerja yang mampu menjawab tantangan jaman.
Beberapa penelitian kependudukan di Indonesia seperti Faisal (2002),
Chatib (2004) dan Mar’ie (2002) menyatakan bahwa penganguran dikalangan
kaum terdidik menunjukkan angka yang cukup tinggi. Sajian data Badan Pusat
Statistik pada tahun 2001 memperlihatkan jumlah pengangguran yang sudah
2
tamat sekolah dasar sampai perguruan tinggi telah mencapai paling tidak 5,8
juta orang, jumla ini diprediksi akan terus bertambah dalam beberapa tahun
berikutnya.
Oleh karena itu, pendidikan yang diharapkan dapat melahirkan sumber
daya manusia yang berkualitas (Daryono. Dkk, 2003), harus diupayakan dapat
memberikan bekal dan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Karena pasar tenaga kerja dengan tingkat persaingan yang cukup tinggi,
menjadikan posisi angkatan kerja kerja menjadi lemah apalagi jika tidak
memiliki ketrampilan dan kemampuan yang memadai.
Berbagai jenis usaha yang memerlukan tenaga kerja, dengan
sendirinya akan menyesuaikan kualifikasi yang diinginkan dengan jenis dan
sifat pekerjaan yang dibebankan, salah satunya adalah kualifikasi bidang
akuntansi. Bidang akuntansi banyak disebut sebagai jalur karir yang memiliki
peluang terbuka, karena hampir seluruh instansi, perusahaan, dan lembaga
lainnya selalu membutuhkan orang yang mengurusi bidang akuntansi,
walaupun pada kenyataanya tidak semua sarjana akuntansi bekerja sesuai
dengan kualifikasi profesi yang dimilikinya.
Sarjana akuntansi paling tidak memiliki tiga alternatif langkah yang
dapat ditempuh (Astani, 2001). Pertama, setelah menyelesaikan pendidikan
jurusan akuntansi, seseorang dapat langsung bekerja. Bidang pekerjaan yang
tersedia untuk lulusan ini cukup bervariasi, antara lain dengan berwirausaha
atau bekerja pada suatu instansi, perusahaan, dan lembaga lainnya. Kedua,
melanjutkan pendidikan akademik ke jenjang yang lebih tinggi baik S2
3
maupun kuliah di bidang lain. Ketiga, melanjutkan pendidikan profesi untuk
menjadi Akuntan Publik.
Pendidikan akuntansi akan menghasilkan dua jalur karir, yaitu jalur
pendidikan atau akademisi, dan jalur profesi atau praktisi kerja (Machfoedz,
1997). Jika jalur karir yang diinginkan adalah jalur pendidikan maka mereka
akan melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi baik S2 maupun sampai
S3 dan bagi yang memilih jalur profesi maka akan melanjutkan pendidikan
profesi untuk kemudian menempuh ujian sertifikasi baik dalam bentuk Ujian
Sertifikasi Akuntan Publik (USAP), maupun Ujian Sertifikasi Akuntan
Manajemen (USAM).
Dunia usaha yang memerlukan lulusan sarjana akuntansi perlu
mengetahui berbagai faktor yang dipertimbangkan oleh pencari kerja dalam
menerima suatu pekerjaan. Hal ini sangat membantu dalam proses terjadinya
hubungan yang saling menguntungkan antara pencari kerja dengan pemberi
kerja. Namun seorang sarjana akuntansi, baik yang berencana untuk berprofesi
sebagai akuntan publik maupun non akuntan publik perlu menyadari bahwa
pada perkembangnya, bisa saja pekerjaan yang semula tidak terbayangkan
oleh akuntan diperkirakan dapat menjadi pekerjaan akuntan publik (Dennis,
2000). Sebagai contoh, sarjana akuntansi dapat saja berperan sebagai manajer
SDM pada sebuah Kantor Akuntan Publik (KAP), sehingga harus mampu
mengelola dan memotivasi karyawan. Atau beberapa bidang lain yang pada
perkembangannya dapat dikelola oleh seorang sarjana akuntansi.
4
Jalur karir dibidang akuntansi baik sebagai Akuntan Publik atau
bekerja pada bidang akuntansi lainnya maupun pilihan untuk menjadi
akademisi, dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan dan pemahaman terhadap
bidang yang akan dipilih. Penelitian terdahulu, yang dilakukan oleh Bayu Aji
Titi Astuti pada tahun 2004, menunjukkan bahwa mahasiswa yang memilih
jurusan akuntansi sebagai jalur karir dalam menghadapi globalisasi dipegaruhi
oleh faktor sikap terhadap perilaku dan persepsi pengendalian perilaku.
Faktor sikap terhadap perilaku adalah hal-hal yang mendorong
mahasiswa untuk memilih jurusan akuntasi sebagai pilihan karir seperti; gaji
yang tinggi dan potensi untuk maju, kesempatan kerja, mengarah pada dunia
bisnis, gaji tinggi, menyenangkan, berhubungan dengan orang, berhubungan
dengan angka, dan kesempatan kerja secara pribadi. Sedangkan faktor persepsi
pengendalian perilaku adalah faktor-faktor yang menentukan mahasiswa
memilih jurusan akuntansi meliputi; kemampuan matematika yang tinggi, nilai
yang baik pada mata kuliah akuntansi pengantar, memungkinkan mengikuti
aktifitas organisasi, dan beban kuliah yang berat akan menyebabkan nilai jelek
pada mata kuliah lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa dalam memilih jurusan
akuntansi sebagai pilihan karir dimasa depan sangat menarik untuk diteliti.
Penelitian ini mengambil tema tersebut dengan judul “Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Mahasiswa Akuntansi terhadap Konsistensi Pilihan
Karir dibidang akuntansi (Studi empiris pada mahasiswa akuntansi
Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta)”.
5
B. Perumusan Masalah
Permasalahan yang ingin diteliti dalam penelitian ini adalah faktorfaktor
apakah yang mempengaruhi mahasiswa akuntansi terhadap konsistensi
pilihan karir dibidang akuntansi
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor
yang mempengaruhi mahasiswa akuntansi terhadap konsistensi pilihan karir
dibidang akuntansi.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertumpu pada persepsi mahasiswa yang telah
melakukan pilihan karir pada bidang akuntansi, sehingga diharapkan dengan
penelitian ini dapat memberikan manfaat antara lain:.
1. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi mahasiswa
akuntansi terhadap konsistensi pilihan karir dibidang akuntansi,
2. Menjadi bahan dan pertimbangan bagi mahasiswa yang belum maupun
yang sudah memilih jurusan akuntansi sebagi pilihan karir, sehingga
dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas dan
keungulannya.
6
E. Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan
Bab ini menguraikan tentang latar belakang, perumusan dan
pembatasan masalah, serta tujuan, manfaat, dan sistematika
penulisan.
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab ini merupakan uraian tentang berbagai teori yang menjadi
rujukan dan dasar secara keilmuan terhadap permasalahan yang
akan diteliti. Teori-teori tersebut berkaitan dengan teori tentang
pendidikan akuntansi dan peluang kerja dimasa depan, kurikulum
pendidikan akuntansi, teori tentang perilaku, dan berbagai teori
yang laing yang mendukung penelitian ini.
Bab III Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan langkah-langkah yang akan
dilakukan dalam penelitian ini untuk dapat menyajikan data dan
informasi secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan
sehingga penelitian ini akan mendapatkan hasil yang maksimal.
Dalam bab ini akan diuraikan tentang populasi dan sample, data
dan sumber data, definisi dari masing-masing variabel dan
pengukurannya, dan metode analisis data.
7
Bab IV Analisa Data dan Pembahasan
Bab ini membahas tentang analisis data dan pengolahannya serta
pembahasan terhadap data yang telah diolah tersebut.
Bab V Penutup
Bab penutup berisi tentang simpulan, saran dan keterbatasan dalam
penelitian ini.


http://cari-pdf.com/download/index.php?name=contoh%20skripsi%20metode%20penelitian%20akuntansi&file=etd.eprints.ums.ac.id/4085/1/B200020061

Evaluasi :
Menurut saya penelitian ini sudah sesui dengan metode deskriptif karena dalam penelitian ini sudah dijabarkan factor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi mahasiswa akuntansi terhadap konsistensi pilihan karirdi bidang akuntansi. Disini juga diterangkan bagaimana kondisi pendidikan di masa sekarang ini. Hal tersebut sudah cukup jelas untuk menggambarkan bagaimana arah atau tujuan penelitian tersebut diadakan.

Rabu, 03 Maret 2010

Apa itu Research, Riset atau Penelitian?
Kata penelitian dalam Bahasa Inggris adalah Research. Dari kata ini kita
membuat istilah Riset dalam Bahasa Indonesia. Kata research sering digunakan
untuk mewakili serangkaian kegiatan atau untuk mengartikan sesuatu yang
kurang tepat sehingga perlu diluruskan terlebih dahulu.
Untuk memahami apa itu riset atau penelitian, kita perlu tahu apa yang bukan
dikatagorikan riset dan apa karakteristik riset.
Apa yang Bukan Riset
Perlu diketahui bahwa research atau penelitian atau riset:
1. Bukan hanya mengumpulkan informasi tentang sesuatu atau beberapa hal.
Ini namanya pencarian informasi (information discovery)
2. Bukan memindahkan fakta dari satu lokasi ke lokasi lain, dengan
menghilangkan inti dari riset yaitu: intepretasi data. Misalnya seorang
mahasiswa membuat tulisan tentang Teknologi Pendeteksi Gempa Bumi yang
membutuhkan sumber informasi dari berbagai macam sumber dan format.
Namun demikian karena sifatnya mengkoleksi data, informasi dari berbagai
sumber dan kemudian menyusunnya menjadi sebuah tulisan tanpa intepretasi
data, maka kegiatan yang menghasilkan tulisan ini bukanlah riset.
3. Bukan mencari informasi tertentu secara acak. Misalnya kita ingin membeli
rumah, kemudian kita mencari informasi-informasi tentang rumah-rumah
yang setipe, harga yang mendekati, lokasi yang bervariasi dan model-model
yang ditawarkan melalui brosur-brosur perumahan untuk menentukan rumah
yang seperti apa yang kita inginkan, sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan
4. Bukan sekedar istilah untuk menarik perhatian. Beberapa iklan produk
menggunakan kata “riset” untuk menarik perhatian konsumen dan
meyakinkan konsumen bahwa produk mereka bermutu.
Karakteristik Riset
Jika riset bukanlah 4 hal di atas maka apakah riset itu?
Riset adalah proses mengumpulkan, menganalisis, dan
menerjemahkan informasi atau data secara sistematis untuk
menambah pemahaman kita terhadap suatu fenomena
tertentu yang menarik perhatian kita.
Sekalipun kegiatan ini dapat saja terjadi untuk hal sehari-hari, tapi kita fokuskan
pada FORMAL RESEARCH yaitu riset yang ditujukan untuk menambah
pemahaman kita terhadap suatu fenomena dan untuk dikomunikasikan kepada
komunitas (dipublikasikan).
Research Umi Proboyekti, S.Kom,MLIS
Fakultas Teknik Universitas Kristen Duta Wacana 2
Teknik Informatika & Sistem Informasi
Menurut Paul Leedy dalam Practical Research, ada 8 karakteristik riset:
1. Riset berasal dari satu pertanyaan atau masalah: dengan menanyakan
pertanyaan kita sedang berupaya untuk stimulasi dimulainya proses
penelitian. Sumber pertanyaan dapat berasal dari sekitar kita.
2. Riset membutuhkan tujuan yang jelas : pernyataan tujuan ini menjawab
pertanyaan : “ Masalah apa yang akan diselesaikan/dipecahkan?” tujuan
adalah pernyataan permasalahan yang akan dipecahkan dalam riset.
3. Riset membutuhkan rencana spesifik: untuk melakukan penelitian rencana
kegiatan disusun. Selain menetapkan tujuan dari riset, kita harus menetapkan
juga bagaimana mencapai tujuan tersebut. Beberapa hal yang perlu
diputuskan misalnya: dimana mendapatkan data? Bagaimana mengumpulkan
data tersebut? Apakah data yang ada berelasi dengan permasalahan yang
ditetapkan dalam riset?
4. Riset biasanya membagi masalah prinsip menjadi beberapa submasalah:
untuk mempermudah menjawab permasalahan, biasanya masalah
yang prinsip dibagi menjadi beberapa sub masalah.
Masalah : Kompresi data dengan algoritma substitution
Sub-masalah:
- bagaimana melakukan kompresi data pada file teks hingga hasil
kompresi 30% dari file asli?
- bagaimana melakukan dekompresi pada file teks tanpa mengubah isi?
5. Riset dilakukan berdasarkan masalah, pertanyaan atau hipotesis riset
yang spesifik: Hipotesis adalah asumsi atau dugaan yang logis yang
memberikan jawaban sementara tentang permasalahan riset berdasarkan
penyelidikan awal. Hipotesis mengarahkan kita ke sumber-sumber informasi
yang membantu kita untuk menyelesaikan dan menjawab permasalahan riset
yang sudah ditetapkan. Hipotesis bisa lebih dari satu. Hipotesis mempunyai
kemungkinan didukung atau tidak didukung oleh data. Jika suatu hipotesis
tidak didukung oleh data, maka hipotesis itu
6. Riset mengakui asumsi-asumi: Dalam riset, asumsi merupakan hal penting
untuk ditetapkan. Asumsi adalah kondisi yang ditetapkan sehingga
jangkauan riset jelas batasnya. Asumsi juga bisa merupakan batasan sistem
di mana kita melakukan riset.
7. Riset membutuhkan data dan intepretasi data untuk menyelesaikan
masalah yang mendasari adanya riset: Pentingnya data bergantung pada
bagaimana peneliti memberi arti dan menarik inti sari dari data-data yang
Research Umi Proboyekti, S.Kom,MLIS
Fakultas Teknik Universitas Kristen Duta Wacana 3
Teknik Informatika & Sistem Informasi
tersedia. Di dalam riset data yang tidak diintepretasikan/diterjemahkan tidak
berarti apapun.
8. Riset bersifat siklus: siklus dari riset dapat digambarkan seperti pada
Gambar 1.1.
Gambar 1.1: Siklus Riset
Untuk memulai suatu penelitian, permasalahan yang akan dipecahkan perlu
ditemukan lebih dahulu. Beberapa hal yang membantu penemuan tersebut
adalah: membaca artikel jurnal-jurnal ilmiah pada bidang yang diminati.
Dengan membaca beberapa artikel jurnal yang memuat permasalahan dan
pemecahannya diharapkan ada stimulasi dari pembacaan tersebut untuk
menimbulkan ide-ide lain yang layak untuk diteliti.
Permasalahan sebagai Inti Riset
Pada dasarnya riset dapat dikatagorikan menjadi dua jenis:
1. basic research/penelitian dasar
mengembangkan suatu teori atau konsep dalam bidang tertentu
2. applied research/penelitian terapan
Research Umi Proboyekti, S.Kom,MLIS
Fakultas Teknik Universitas Kristen Duta Wacana 4
Teknik Informatika & Sistem Informasi
berkaitan dengan suatu penerapan teori untuk mendapatkan
perbandingan, hasil kinerja atau menghasilkan suatu produk yang
membantu manusia.
dalam kedua jenis riset tersebut, adalah penting untuk menentukan
permasalahan yang akan dibahas dan diselesaikan. Permasalahan tersebut
biasanya berupa pertanyaaan yang jawabannya memberikan hal baru yang
berbeda dan permasalahan tersebut mengembangkan pengetahuan tentang
sesuatu misalnya cara berpikir yang baru tentang sesuatu, kemungkin baru
dalam penerapan atau membuka jalan bagi penelitian selanjutnya.
Permasalahan untuk riset haruslah mengandung interpretasi data yang
merupakan hasil pemikiran si peneliti dalam mencari jawaban dari permasalahan
dalam penelitiannya. Untuk memastikan bahwa permasalahan tersebut
mengandung interpretasi data pastikan hindari situasi di bawah ini:
1. pengumpulan informasi untuk memperdalam pemahaman kita terhadap
sesuatu. Misalnya suatu riset untuk mengetahui lebih dalam tentang cara
kerja router.
2. perbandingan antara dua kumpulan data. Misalnya membandingkan
jumlah mahasiswa baru di beberapa PTS di Yogya pasca gempa.
3. memanfaatkan komputer sebagai kalkulator besar tanpa disertai analisis
atau interpretasi data. Misalnya menggunakan komputer untuk
menghitung sekumpulan data dengan rumus ABC.
4. permasalahan yang langsung dapat dijawab dengan “YA” atau “TIDAK”.
Misalnya: Apakah koneksi jaringan dengan kabel fiber optic lebih cepat
dari pada kabel UTP?
Permasalahan yang tidak memenuhi syarat hanya akan menghasilkan penelitian
yang tidak memenuhi standar penelitian. Jika demikian maka penelitian tersebut
adalah pekerjaan yang sia-sia.
Tipe Karya Ilmiah
Berikut ini beberapa tipe karya ilmiah :
•ANALISIS melihat apa yang dibalik permukaan materi: melihat hubungan
antar bagian dan keseluruhan, mengenali hubungan antara sebab-akibat,
mencari hal-hal penting, mempertanyakan suatu validitas. Kata tanya yang
digunakan BAGAIMANA, atau APA.Kalimat tanya yang dibentuk bukanlah
kalimat tanya yang tertutup atau hanya membutuhkan jawaban “ya” atau
“tidak”. Kalimat tanya yang dibentuk membutuhkan penjabaran dalam
menjawabnya. Penjabaran itulah yang kemudian menjadi karya ilmiah yang
disusun dalam bab-bab yang berurutan dan saling berhubungan.
Research Umi Proboyekti, S.Kom,MLIS
Fakultas Teknik Universitas Kristen Duta Wacana 5
Teknik Informatika & Sistem Informasi
Contoh rumusan masalah :
- Bagaimana Metadata Dublin Core yang memiliki 15 elemen mampu
mengklasifikasikan informasi berbentuk image, audio dan video?
- Bagaimana data ciri khas masing-masing informasi tersebut dapat diadaptasi
oleh Metadata Dublin Core?
- Apa faktor-faktor dalam metode Winter yang menyebabkan perubahan nilai
produksi barang tertentu?
- Bagaimana menghasilkan trend prestasi akademik dari setiap angkatan
mahasiswa berdasarkan hasil test masuk?
•PERBANDINGAN berarti mencari perbedaan dan persamaan. Aspek yang
dibandingkan disiapkan dan digunakan untuk menyusun penulisan.
Contoh :
- Bandingkan performa akses ke digital library dengan repository terpusat di
satu server dengan kapasitas besar, dengan akses ke digital library dengan
repository terdistribusi dengan kapasitas sedang. Perbandingan yang dapat
dilihat dari kecepatan akses, macam standar yang diperlukan, prosedur
update data, prosedur pemeliharaan, keamanan data dll.
- Bandingkan alternatif pendukung keputusan tentang banyak barang yang
diproduksi berdasarkan metode X dan metode Y dengan parameter jenis
barang, dan jumlah barang.
- Bandingkan ketepatan dokumen hasil pencarian dengan metode X dan Y
berdasarkan faktor-faktor: jumlah istilah, bobot istilah dan kecepatan proses.
•ARGUMENTASI (setuju atau tidak setuju) meminta kita berada di satu sisi
berdasarkan analisis dari bukti-bukti yang kuat dan alasan yang jelas dan
dapat diterima.
Pada dasarnya hanya ada dua tipe dari 3 tipe yang dijelaskan di atas yaitu tipe
analisis dan argumentasi. Tipe perbandingan termasuk dalam tipe analisis karena
melakukan analisis terhadap 2 hal yang dibandingkan.
Sumber :
Leedy, Paul.D., Jeanne.E. Ormrod. Practical Research: Planning and Design a
Research Edisi 8 [2005]. Ohio : Pearson Merrill Prentice Hall.




1
ANALISIS PENGARUH RASIO LIKUIDITAS, LEVERAGE, AKTIVITAS, DAN
PROFITABILITAS TERHADAP RETURN SAHAM
(STUDI PADA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN DENGAN KATEGORI
INDUSTRI BARANG KONSUMSI DI BEJ)
I G. K. A. ULUPUI
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana
ABSTRACT
The purpose of this study is to empirically study the effect of accounting variables—liquidity
ratio, leverage, activity ratio, and profitability ratio—on stock returns of the food and beverage
firms registered between 1999--2005 on Jakarta Stock Exchange (JSX). The data is sampled
using purposive sample judgment method. From 21 firms registered on JSX only 13 are used as
samples for this study. The firms included are Asia Inti Sarana, Ades Alfindo Putra Setia, Aqua
Golden Mississipi, Davomas Abadi, Mayora Indah, Indofood Sukses Makmur, Ultra Jaya Milk,
Sinar Mas Agro Resources and Technology, Sari Husada , Cahaya Kalbar, Delta Djakarta, Fast
Food Indonesia and Tunas Baru Lampung. The result of this study using multiple regression
finds that only two variables (return on asset and current ratio) that significantly affect the
following year stock return with level of significance 5 percent.
Keywords: financial statements, financial ratio, stock return
I. LATAR BELAKANG
Departemen Perindustrian dan Perdagangan mengeluarkan target pertumbuhan sektor
industri rata-rata 8 persen per tahun untuk periode 2005—2009. Selain itu, ditetapkan empat
kelompok industri prioritas, yaitu industri berbasis pertanian atau agro (pengolahan kelapa sawit,
pengalengan ikan, karet, kayu, cokelat, dan lain-lain), industri alat-alat transportasi (kendaraan
bermotor, perkapalan, dan kedirgantaraan), industri telematika (informasi dan telekomunikasi)
dan manufaktur (tekstil, alas kaki, keramik, elektronik, konsumsi kertas, dan ban)
(http//www.kompas.co id). Namun, faktor utama yang menentukan kapasitas produksi suatu
industri adalah modal investasi awal, perkembangan industri, ketersediaan SDM, teknologi
sumber daya alam, dan sektor-sektor pendukung.
Salah satu sektor pendukung untuk kelangsungan suatu industri adalah tersedianya dana.
Sumber dana murah yang dapat diperoleh oleh suatu industri adalah dengan menjual saham
kepada publik di pasar modal. Pasar modal di Indonesia, yaitu BEJ dapat menjadi media
pertemuan antara investor dan industri. Khusus untuk industri (manufacture) terdapat 153
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan industri makanan dan minuman ada
2
sebanyak 20 perusahaan (ICMD, 2004). Masih sedikitnya industri makanan dan minuman yang
mencari dana melalui pasar modal membuka kesempatan luas bagi perusahaan sejenis lainnya
untuk mencari dana di BEJ.
Bagi perusahaan yang ingin masuk ke pasar modal perlu memperhatikan syarat-syarat
yang dikeluarkan oleh Bapepam sebagai regulator pasar modal. Selain itu, perusahaan juga harus
mampu meningkatkan nilai perusahaan sehingga terjadi peningkatan penjualan sahamnya di
pasar modal. Jika diasumsikan investor adalah seorang yang rasional, maka investor tersebut
pasti akan sangat memperhatikan aspek fundamental untuk menilai ekspektasi imbal hasil yang
akan diperolehnya.
Laporan keuangan merupakan sebuah informasi yang penting bagi investor dalam
mengambil keputusan investasi. Manfaat laporan keuangan tersebut menjadi optimal bagi
investor apabila investor dapat menganalisis lebih lanjut melalui analisis rasio keuangan
(Penman, 1991). Horigan (1965) dalam (Tuasikal, 2001) menyatakan bahwa rasio keuangan
berguna untuk memprediksi kesulitan keuangan perusahaan, hasil operasi, kondisi keuangan
perusahaan saat ini dan pada masa mendatang, serta sebagai pedoman bagi investor mengenai
kinerja masa lalu dan masa mendatang.
Rasio keuangan yang berasal dari laporan keuangan ini sering disebut faktor fundamental
perusahaan yang dilakukan dengan teknik analisis fundamental. Bagi perusahaan-perusahaan
yang go public diharuskan menyertakan rasio keuangan yang relevan sesuai dengan Keputusan
Ketua Bapepam Nomor KEP-51/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996 (BEJ).
Pengujian-pengujian yang dilakukan pada pasar modal di Indonesia banyak diilhami oleh
penelitian-penelitian terdahulu yang dilakukan di negara lain, seperti O’Connor (1973) yang
memelopori studi mengenai hubungan antara rasio keuangan berguna bagi investor (pemegang
saham biasa) untuk mengambil keputusan. Hasil pengujiannya menunjukkan bahwa analisis
kekuatan dari variasi model ratio dengan rate of return menunjukkan adanya keragaman akan
manfaat rasio keuangan bagi investor pemegang saham biasa. Ou & Penman (89) meneliti
manfaat laporan keuangan dalam memprediksi return saham. Hasil riset mereka menunjukkan
bahwa informasi akuntansi mengandung informasi fundamental yang tidak tercermin dalam
harga saham. Gupa dan Heufner (1972) melanjutkan bahwa rasio-rasio keuangan tertentu
memiliki manfaat atau arti yang berbeda ketika diasosiasikan dengan karakteristik industri
tertentu yang berbeda. Mirip dengan pernyataan Gupa dan Heufner adalah apa yang dikemukakan
3
oleh Foster (1986). Ia mengemukakan bahwa rasio tertentu antara industri yang satu dengan
lainnya memiliki perbedaan yang signifikan.
Investor perlu memiliki tolok ukur agar dapat mengetahui apakah jika ia melakukan
investasi pada suatu perusahaan ia akan mendapatkan gain (keuntungan) apabila sahamnya
dijual. Investor dapat menggunakan tingkat imbal hasil sebagai tolok ukur untuk melihat
ekspektasi hasil suatu saham.
Riset mengenai kegunaan informasi akuntansi (laporan keuangan) dalam hubungannya
dengan return dan harga saham di Bursa Efek Jakarta telah banyak dilakukan, antara lain sebagai
berikut. Machfoedz (1994) menguji manfaat rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba
perusahaan pada masa depan pada 89 perusahaan pemanufakturan yang terdaftar di BEJ dari
tahun 1989 -1993. Asyik (1999) menemukan bahwa rasio neraca dan laba rugi memiliki
hubungan yang lebih kuat dengan return saham dibandingkan dengan rasio arus kas. Kennedy
JSP, (2003), meneliti pengaruh ROA, ROE, earnings per share, profit margin, asset turnover,
rasio leverage, dan debt to equity ratio terhadap return saham. Triyono dan Jogiyanto (2000)
meneliti hubungan kandungan informasi arus kas, komponen arus kas, dan laba akuntansi dengan
harga saham atau return saham.Tuasikal (2001) menguji manfaat informasi akuntansi dalam
memprediksi return saham. Mirip dengan Tuasikal sebelumnya Parawiyati et al. (2000) meneliti
penggunaan informasi keuangan untuk memprediksi keuntungan investasi bagi investor di pasar
modal. Hasil pengujiannya menunjukkan bahwa variabel informasi keuangan tersebut
berpengaruh signifikan sebagai prediktor laba dan arus kas untuk satu, dua, dan empat tahun ke
depan. Selain itu, Natarsyah S. (2002) menganalisis pengaruh beberapa faktor fundamental dan
risiko sistematik terhadap harga saham. Penelitiannya merupakan studi terhadap 16 industri
barang konsumsi yang go public di pasar modal dalam periode 8 tahun (1990—1997) dengan
mengasumsikan bahwa harga saham merupakan fungsi dari ROA, ROE, beta, book value,
debt/equity dan required rate of return. Setelah melakukan pengujian terhadap hipotesis
diperoleh hasil bahwa faktor fundamental seperti return on assets, dividend payout ratio, debt to
equity ratio, book value equity pershare, dan indeks beta berpengaruh terhadap harga saham
perusahaan.
Uraian di atas menunjukkan bahwa hasil penelitian mengenai pengaruh rasio keuangan
terhadap harga atau return saham masih sangat bervariatif. Melihat laba dan juga leverage masih
menjadi perhatian yang penting bagi investor maka penelitian ini ingin menganalisis kembali
4
temuan penelitian sebelumnya dari sudut fundamental perusahaan, yaitu rasio yang terdapat
dalam laba (profitabilitas), terutama ROA, ROE, leverage, juga rasio likuiditas dan aktivitas
terhadap tingkat imbal hasil (return) saham perusahaan-perusahaan yang masuk kategori industri
barang konsumsi di BEJ.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan temuan empiris tentang pengaruh variabel
akuntansi, khususnya yang berkaitan dengan rasio keuangan pada tingkat individual terhadap
return saham perusahaan-perusahaan yang masuk kategori industri makanan dan minuman yang
terdaftar di BEJ sejak tahun 1999—2005.
II. KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1 Rasio Keuangan dan Manfaatnya
Rasio keuangan digunakan untuk membandingkan risiko dan tingkat imbal hasil dari
berbagai perusahaan untuk membantu investor dan kreditor membuat keputusan investasi dan
kredit yang baik (White et al., 2002). Ada empat kategori rasio yang digunakan untuk mengukur
berbagai aspek dari hubungan risiko dan return (White et al., 2002), yaitu sebagai berikut.
(1) Analisis likuiditas: mengukur kecukupan sumber kas perusahaan untuk memenuhi
kewajiban yang berkaitan dengan kas dalam jangka pendek.
(2) Analisis solvency dan long term debt (leverage): menelaah struktur modal perusahaan,
termasuk sumber dana jangka panjang dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajiban investasi dan utang jangka panjang.
(3) Analisis aktivitas: mengevaluasi revenue dan output yang dihasilkan oleh aset
perusahaan.
(4) Analisis profitabilitas: mengukur earnings (laba) perusahaan relatif terhadap revenue
(sales) dan modal yang diinvestasikan.
Salah satu tujuan dan keunggulan dari rasio adalah dapat digunakan untuk
membandingkan hubungan return dan risiko dari perusahaan dengan ukuran yang berbeda. Rasio
juga dapat menunjukkan profil suatu perusahaan, karakteristik ekonomi, strategi bersaing dan
keunikan karakteristik operasi, keuangan dan investasi.
2.2 Jenis-jenis Rasio Keuangan
5
Terdapat berbagai definisi tentang rasio dan begitu variatif antara satu analis dengan
lainnya demikian juga antara satu text book dengan text book lainnya atau antara satu laporan
keuangan dengan laporan keuangan lainnya (White, 2002). Berikut dikutip beberapa rasio
keuangan yang umum digunakan yang disadur dari buku The Analysis and Use of Financial
Statements oleh White, Sondhi dan Fried (2002) hal. 119—135.
Activity analysis
Aktivitas operasi perusahaan membutuhkan investasi, baik untuk aset yang bersifat jangka
pendek (inventory and account receivable) maupun jangka panjang (property, plan, and
equipment). Rasio aktivitas menggambarkan hubungan antara tingkat operasi perusahaan (sales)
dengan aset yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan operasi perusahaan tersebut. Rasio
aktivitas juga dapat digunakan untuk memprediksi modal yang dibutuhkan perusahaan (baik
untuk kegiatan operasi maupun jangka panjang). Misalnya untuk meningkatkan penjualan akan
membutuhkan tambahan aset. Rasio aktivitas memungkinkan para analis menduga kebutuhan ini
serta menilai kemampuan perusahaan untuk mendapatkan aset yang dibutuhkan untuk
mempertahankan tingkat pertumbuhannya.Dua buah contoh rasio aktivitas: inventory turnover,
total asset turn over.
Working Capital Ratio
Konsep modal kerja atau operasi ini didasarkan atas klasifikasi aset dan liabilities dalam
bentuk kategori lancar dan tidak lancar. Perbedaan secara tradisional antara current asset dan
liabilities didasarkan pada jatuh tempo kurang dari satu tahun atau berdasarkan siklus operasi
perusahaan yang normal (jika lebih). Terdapat tiga rasio membandingkan kas dengan utang
lancar untuk mengukur kewajiban perusahaan (cash obligations): current ratio, cash ratio, cash
flow from operations ratio.
Leverage (Debt) Ratio
Semakin tinggi proporsi debt relatif terhadap ekuitas meningkatkan risiko perusahaan.
Sebagaimana rasio lainnya faktor industri dan ekonomi sangat mempengaruhi, baik tingkat debt
maupun sifat debt (jatuh tempo dan tingkat bunga tetap dan variabel). Misalnya industri dengan
modal yang intensif cenderung untuk menggunakan tingkat debt yang tinggi untuk mendanai
property, plan, and equipment-nya. Debt untuk mendanai kegiatan semacam itu harus bersifat
jangka panjang agar sesuai dengan jangka waktu aset yang diperoleh. Debt ratio ditunjukkan
dengan perbandingan debt to total capital, debt to equity .
6
Profitability Analysis
Investor di pasar modal sangat memperhatikan kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan, menunjang, dan meningkatkan profit. Profitability dapat diukur beberapa hal yang
berbeda, namun dalam dimensi yang saling terkait. Pertama, terdapat hubungan antara profit
dengan sales sehingga terjadi residual return bagi perusahaan per rupiah penjualan. Pengukuran
yang lainnya adalah return on investment (ROI) atau disebut juga return on asset (ROA), yang
berkaitan dengan profit dan investasi atau aset yang digunakan untuk menghasilkannya. Return
on sales dapat berupa rasio gross margin, operating margin, profit margin. Return on
investment dapat berupa rasio return on asset, dan return on equity.
Penelitian ini menggunakan rasio likuiditas atau working capital ratio, rasio aktivitas
(asset turn over), rasio debt, dan rasio profitabilitas yang masing-masing dipilih salah satu
perhitungan rasio dari masing-masing rasio di atas. Misalnya untuk rasio aktivitas dinyatakan
dengan total asset turn over (ATO), rasio likuiditas menggunakan current ratio (CURRENT),
rasio debt atau leverage dijelaskan dengan debt to equity ratio (DTE), sedangkan rasio
profitabilitas diukur dengan rasio return on asset. Hal ini sesuai dengan variabel yang digunakan
oleh Tuasikal (2002), namun ia memasukkan seluruh komponen rasio dan ditambahkan dengan
rasio pasar. Demikian juga dengan Kennedy (2003) yang menggunakan seluruh rasio keuangan
yang sesuai dengan analisis Dupont.
2.2 Penelitian Sebelumnya
Beberapa penelitian sebelumnya berkaitan dengan manfaat informasi akuntansi untuk
memprediksi laba atau return saham di BEJ dikemukakan berikut ini. Silalahi (1991)
mengadakan penelitian terhadap 38 perusahaan yang listing di BEJ dengan periode penelitian
1989—1990. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa fluktuasi harga saham secara nyata dan
simultan dipengaruhi oleh variabel-variabel return on assets, dividend pay out ratio, volume
perdagangan saham, dan tingkat bunga deposito. Sementara itu ROA ternyata mempunyai
pengaruh yang dominan.
Machfoedz (1994) menguji manfaat rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba
perusahaan pada masa depan pada 89 perusahaan pemanufakturan yang terdaftar di BEJ dari
tahun 1989—1993. Machfoedz menunjukkan bahwa rasio keuangan tertentu dapat digunakan
7
untuk memprediksi laba satu tahun ke depan, tetapi tidak untuk memprediksi lebih dari satu
tahun.
Asyik (1999) menemukan bahwa rasio neraca dan laba rugi memiliki hubungan yang
lebih kuat dengan return saham dibandingkan dengan rasio arus kas. Sementara itu penelitian
yang dilakukan oleh Kennedy JSP (2003) meneliti pengaruh ROA, ROE, Earnings per Share,
Profit Margin, Asset Turnover, Rasio Leverage, dan Debto to Equity Ratio terhadap Return
saham. Sampel yang digunakan adalah LQ 45 di BEJ tahun 2001 dan 2002. Dengan
menggunakan teknik analisis regresi hasil yang diperoleh menunjukkan hanya variabel asset
turnover, ROA, ROE, leverage ratio, debt to equity ratio, dan earnings per share memberikan
hubungan yang nyata dengan return saham. Meskipun secara individu rata-rata hubungannya
rendah, secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap variabel dependennya.
Sementara itu Tuasikal (2001) menguji manfaat informasi akutansi dalam memprediksi
return saham. Sampel yang digunakan adalah perusahaan manufaktur dan nonmanufaktur yang
terdaftar di BEJ sejak tahun 1996—1997. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa untuk
perusahaan pemanufakturan informasi akuntansi dalam bentuk rasio keuangan tidak bermanfaat
dalam memprediksi return saham untuk periode satu tahun ke depan. Sebaliknya, untuk
memprediksi dua tahun ke depan hasil pengujiannya menunjukkan informasi akuntansi dalam
bentuk rasio keuangan tertentu bermanfaat dalam memprediksi return saham. Di pihak lain
informasi akuntansi dalam bentuk rasio keuangan tertentu memiliki kemampuan prediksi yang
berbeda antara perusahaan pemanufakturan dan nonpemanufakturan dalam memprediksi return
saham untuk periode dua tahun ke depan.
Natarsyah S. (2002) menganalisis pengaruh beberapa faktor fundamental dan risiko
sistematik terhadap harga saham. Penelitian ini merupakan studi terhadap 16 industri barang
konsumsi yang go public di pasar modal dalam periode 8 tahun (1990—1997) dengan
mengasumsikan bahwa harga saham merupakan fungsi dari ROA, ROE, beta, book value,
debt/equity dan required rate of return. Setelah melakukan pengujian terhadap hipotesis
diperoleh hasil bahwa faktor fundamental seperti return on assets, dividend payout ratio, debt to
equity ratio, book value equity pershare, dan indeks beta berpengaruh terhadap harga saham
perusahaan. Pengujian hipotesis kedua untuk melihat apakah benar ROA— sebagai indikator
earning power perusahaan, yaitu yang mencerminkan kinerja manajemen dalam menggunakan
seluruh aset yang dimilikinya—mempunyai pengaruh yang dominan terhadap harga saham.
8
Hipotesis ini tidak mendapat dukungan karena ternyata book value equity per share yang
berpengaruh dominan terhadap harga saham.
Parawiyati et al. (2000) pernah meneliti penggunaan informasi keuangan untuk
memprediksi keuntungan investasi bagi investor di pasar modal berdasarkan data laporan
keuangan dari 48 perusahaan manufaktur yang go public yang telah terdaftar di BEJ mulai tahun
1989—1994. Informasi keuangan yang digunakan adalah piutang, sediaan, biaya adminisrasi dan
penjualan, serta rasio laba kotor terhadap penjualan yang digunakan untuk mengestimasi laba
atau arus kas untuk satu, dua, dan empat tahun ke depan. Hasil pengujiannya menunjukkan
bahwa variabel informasi keuangan tersebut berpengaruh signifikan sebagai prediktor laba dan
arus kas untuk satu, dua, dan empat tahun ke depan.
Pankoff dan Virgill (1970) dalam Zainudin & Jogiyanto (1999) mengemukakan bahwa
manfaat laporan keuangan tidak dapat diukur hanya dari keakuratannya mencerminankan kondisi
keuangan perusahaan pada masa lalu. Akan tetapi, juga harus diukur manfaatnya dalam
memprediksi kondisi keuangan perusahaan pada masa yang akan datang sehingga laporan
keuangan bermanfaat sebagai input dalam pengambilan keputusan investasi. Penelitian
Machfoedz (1994) menemukan kekuatan prediksi rasio keuangan untuk periode satu tahun lebih
tinggi daripada dua tahun dan kekuatan prediksi rasio keuangan untuk periode dua tahun
ditemukan tidak signifikan.
Berdasarkan uraian di atas diajukan suatu hipotesis penelitian alternatif sebagai berikut.
H1: Informasi keuangan dalam bentuk rasio likuiditas, debt, aktivitas, dan profitabilitas
berpengaruh signifikan terhadap return saham untuk periode satu tahun ke depan.
III. METODA PENELITIAN
3.1 Sampel dan Data
Perusahaan yang dijadikan sampel adalah perusahaan-perusahaan yang masuk dalam
industri konsumsi, khususnya makanan dan minuman yang terdaftar di BEJ sejak tahun 1999—
2005. Perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar sebanyak 21 perusahaan dan diambil 13
perusahaan sebagai sampel. Ketiga belas perusahaan itu adalah Asia Inti Sarana, Ades Alfindo
Putra Setia, Aqua Golden Mississipi, Davomas Abadi, Mayora Indah, Indofood Sukses Makmur,
Ultra Jaya Milk, Sinar Mas Agro Resources and Technology, Sari Husada DA, Cahaya Kalbar,
Delta Djakarta, Fast Food Indonesia, dan Tunas Baru Lampung.
9
Ketiga belas perusahaan ini dipilih secara purposive dengan melihat kontinuitas usahanya
selama tahun 1999—2005 dan telah menerbitkan laporan keuangan tahunan selama periode
tersebut. Data yang digunakan adalah data-data akuntansi—untuk menghitung rasio keuangan—
periode 1999—2003. Sementara data untuk memprediksi return saham satu tahun ke depan
menggunakan data harga selama lima tahun sejak tahun 2000 sampai dengan 2005. Sumber data
adalah dari Indonesian Capital Market Directory tahun 2002 dan 2004 serta Jsx-Yahoo.finance.
3.2 Variabel dan Pengukuran Variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu variabel independen dan
variabel dependen. Variabel independen/penjelas yang digunakan adalah rasio likuiditas, rasio
debt, rasio aktivitas, dan rasio profitabilitas. Sebaliknya, variabel dependen/variabel yang
dijelaskan yang diteliti adalah return saham perusahaan satu tahun ke depan.
Laporan keuangan dapat digunakan untuk mencari berbagai macam rasio. Karena itu
dikatakan bahwa laporan keuangan akan lebih berguna jika informasi yang disajikan berupa
rasio–rasio. Untuk penelitian ini pemilihan rasio keuangan diproksikan dengan satu rasio
keuangan yang pernah diteliti sebelumnya. Rasio likuiditas diproksikan dengan current ratio,
yaitu rasio antara aktiva lancar dengan utang lancar. Rasio leverage diproksikan dengan debt to
equity ratio, yaitu rasio yang mengukur perbandingan antara total debt dengan total equity.
Sementara itu rasio aktivitas diproksikan dengan total asset turn over, sedangkan rasio
profitabilitas diproksikan dengan return on equity dan return on asset.
Sementara itu pengukuran variabel dependen, yaitu return saham. Penelitian ini
menggunakan return saham satu periode ke depan sehingga perhitungan return saham merupakan
hasil bagi antara selisih harga saham periode tahun depan dengan harga saham periode saat ini
dibagi harga saham periode saat ini dengan rumus:
return saham = Rt+1 – Rt
Rt
Return saham satu tahun ke depan digunakan agar sesuai dengan periode informasi yang
dimiliki investor mengenai terbitnya laporan keuangan. Investor umumnya memiliki informasi
tentang laporan keuangan per 31 Desember, yaitu pada saat diterbitkannya laporan keuangan
tersebut pada 31 Maret tahun berikutnya. Meskipun belum semua emiten menerbitkan laporan
keuangan tepat pada saat itu, hampir sebagian besar emiten telah memiliki kesadaran yang
10
semakin meningkat (Direktur BEJ, Kompas). Penelitian ini ingin menguji bagaimana pengaruh
informasi laporan keuangan terhadap return saham satu tahun setelah investor memiliki informasi
tersebut.
3.3 Model Estimasi
Pada penelitian ini diajukan suatu model estimasi untuk menguji hipotesis.
Yt+1 = b0 + b1 Likuiditas + b2 Debt + b3 Aktivitas + b4 Profitabilitas+ei
Keterangan:
• Likuiditas: current ratio
• Debt: debt to equity ratio
• Aktivitas: total asset turn over
• Profitabilitas: return on asset.
3.4 Pengujian Hipotesis
Untuk mencapai tujuan penelitian, penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi
berganda. Pengujian terhadap hipotesis dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu sebagai
berikut.
a. Uji signifikansi antara variabel bebas terhadap variabel terikat, baik secara bersama-sama
(serentak) maupun secara parsial dilakukan dengan menggunakan uji statistik F dan uji
statistik t.
• Uji statistik F
Uji statistik F digunakan untuk menguji keberartian pengaruh dari seluruh variabel bebas
secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Hipotesis dirumuskan sebagai berikut:
Ho: b1 b2 b3 b4 = 0
H1: b1 b2 b3 b4 ≠ 0
Artinya tidak terdapat pengaruh (alternatifnya terdapat pengaruh) yang signifikan secara
bersama-sama dari seluruh variabel bebas terhadap variabel terikat.
Nilai F hitung dapat dicari dengan menggunakan rumus (Gujarati, 1995:121):
F hitung = R2/ (k – 1)
(1-R2)/(n-k)
11
Untuk menentukan nilai F-tabel, tingkat signifikansi yang digunakan sebesar 5% dengan
derajat kebebasan (degree of freedom) df = (n-k) dan (k-1) di mana n adalah jumlah
observasi, k adalah jumlah variabel termasuk intersep dengan kriteria uji yang digunakan
adalah:
Jika F hit > F tabel (a;k-1;n-k), maka H0 ditolak
Jika F hit < F tabel (a; k-a; n-k), maka H0 diterima
• Uji t- statistik
Uji signifikansi koefisien (bi) dilakukan dengan statistik t (student t). Uji t digunakan
untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel bebasnya. Hipotesis yang
digunakan adalah
H0 : bi = 0;
H1 : bi ≠ 0
Artinya tidak terdapat (alternatifnya terdapat) pengaruh yang signifikan dari variabel
independen terhadap variabel dependen.
Nilai t statistik dapat dicari dengan rumus (Gujarati, 1995; 114)
t-hit = Koefisien regresi bi
Standar deviasi b i
Untuk menentukan nilai t-statistik tabel ditentukan tingkat signifikansi 5% dengan derajat
kebebasan df = (n-k-1) di mana n adalah jumlah observasi dan k adalah jumlah variabel
termasuk intersep dengan kriteria uji adalah:
􀂾 Jika t hit > t tabel (α, n-k-1), maka Ho ditolak
􀂾 Jika t hit < t tabel (α, n-k-1), maka Ho diterima
Untuk melihat kontribusi kemampuan menjelaskan variabel bebas secara bersama-sama
terhadap variansi variabel terikat dapat dilihat dari koefiesien determinasi (R2) berganda
di mana nilai koefisiennya antara 0≤ 1. Hal ini berarti bahwa nilai R2 yang smakin besar
mendekati 1 merupakan indikator yang menunjukkan semakin kuatnya kemampuan
menjelaskan perubahan variabel independen terhadap variabel dependen .
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Informasi laporan keuangan akan lebih bermanfaat jika disajikan dalam bentuk rasio.
Manfaat rasio keuangan ini akan semakin dirasakan oleh investor jika dapat digunakan sebagai
12
pengambilan keputusan investasi. Manfaat rasio keuangan dalam memprediksi return saham
dapat diukur dari tingkat signifikansi hubungan antara rasio keuangan pada tingkat individual
terhadap return saham. Apabila hubungan antara rasio keuangan dengan return saham satu tahun
ke depan signifikan, dapat dikatakan bahwa rasio keuangan tersebut bermanfaat dalam
memprediksi return saham satu tahun ke depan. Sebaliknya, jika hubungan tersebut tidak
signifikan, maka berarti rasio keuangan tidak bermanfaat dalam memprediksi return saham satu
tahun ke depan.
Hasil pengolahan data dengan menggunakan alat analisis SPSS for windows 12
menunjukkan hal-hal sebagai berikut.
4.1 Pengujian Asumsi dan Model Analisis
Pengujian menunjukkan tidak terjadi hubungan linier atau multikolinieritas antara
variabel bebas. Nilai VIF hampir mendekati nilai di sekitar angka satu tabel 1. Multikol terjadi
apabila nilai VIF melebihi 10 (Hair et al, 1998). Dengan demikian, model tersebut layak untuk
digunakan.
Tabel 1
Model Collenearity Statistic
Tolerance VIF
Current
ATO
ROA
DTE
.993
.980
.939
.968
1,018
1,021
1,064
1,033
Dependent variables: ret
Sumber: data diolah
Varian homogenitas terjadi karena data tidak berdistribusi normal. Jika dilihat dari
sebaran data, penelitian ini menunjukkan terjadi heteroskedastisitas. Meskipun demikian, model
ini masih dapat dianalisis lebih lanjut.Uji otokorelasi menggunakan uji Durbin Watson berada
pada kisaran di bawah angka 2 menunjukkan tidak terjadi otokorelasi.
4.2 Pengujian Hipotesis
Hasil pengujian hipotesis tampak pada tabel 2.
Tabel 2
Hasil Estimasi Regresi Berganda
Model Koefisien regresi t-statistik Sig-t
(Constant) ,058 ,320 ,750
13
current
roa
ato
dte
,011
,021
-,033
,000
6,804
2,043
-,574
,008
,000
,045
,568
,994
R2 .446
Adj R2 ,409
F statistik 12,086
Sig. F = ,000
DW statistic 1,903
Sumber: data diolah
Tabel 2 menunjukkan hal-hal sebagai berikut.
• Uji t variabel current ratio dan return on asset berpengaruh signifikan pada tingkat 5%
terhadap return. Rasio asset turn over dan debt to equity tidak berpengaruh signifikan terhadap
return saham satu tahun ke depan.
• Nilai F-hitung sebesar 12,086 (p<0.000) jauh lebih besar daripada nilai F-tabel. Hal ini dapat
menyatakan bahwa variabel independen (current ratio, debt to equity ratio asset turn over,
return on asset) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap return saham satu tahun
ke depan.
• Hasil estimasi regresi pada tabel di atas menunjukkan bahwa koefisien determinasi (R2) sebesar
0.446 menyatakan bahwa terjadi hubungan antara variabel independen dengan variabel
dependen. Hal ini berarti bahwa variabel independen yang ada pada regresi ini mampu
menjelaskan sebesar 44,6% pola pergerakan harga saham pada kelompok industri ini,
sedangkan 55.4% kemungkinan dijelaskan oleh faktor lain yang belum masuk ke dalam model
ini.
Berdasarkan hasil yang tampak pada tabel 2 dapat dibahas hal-hal sebagai berikut.
• Variabel current ratio memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap return saham
satu periode ke depan. Hal ini mengindikasikan bahwa pemodal akan memperoleh return yang
lebih tinggi jika kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya semakin
tinggi. Dugaan mengenai ini adalah karena setelah krisis ekonomi investor mulai
memperhatikan manajemen kas, piutang, dan persediaan perusahaan sebelum mengambil
keputusan berinvestasi di pasar modal.
• Variabel return on asset berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham satu periode
ke depan. Hasil ini konsisten dengan teori dan pendapat Mogdiliani dan Miller (MM) yang
menyatakan bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh earnings power dari aset perusahaan. Hasil
14
yang positif menunjukkan bahwa semakin tinggi earnings power semakin efisien perputaran
aset dan atau semakin tinggi profit margin yang diperoleh oleh perusahaan. Hal ini berdampak
pada peningkatan nilai perusahaan yang dalam hal ini return saham satu tahun ke depan.
Simpulan ini juga mendukung hasil penelitian terdahulu, antara lain Silalahi (2001), Natarsyah
(2002), dan Kennedy (2003).
• Variabel debt to equity rasio, menunjukkan hasil yang positif, tetapi tidak signifikan. Hal ini
mengindikasikan bahwa rasio utang tidak menyebabkan perubahan return saham satu tahun ke
depan. Hal ini tidak konsisten dengan penelitian Natarsyah yang menyatakan bahwa DTE
berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Perbedaan ini kemungkinan
disebabkan oleh perbedaan sampel dan variabel dependen yang digunakan. Kemungkinan hasil
akan berbeda jika digunakan untuk memprediksi return dua atau tiga tahun ke depan.
Meskipun hasilnya tidak signifikan, bukan berarti bahwa investor dapat mengabaikan rasio debt
suatu perusahaan. Sering kali kondisi financial distress yang dihadapi perusahaan disebabkan
oleh kegagalan dalam membayar utang. Proporsi utang yang semakin tinggi menyebabkan fixed
payment yang tinggi. dan akan menimbulkan risiko kebangkrutan (Natarsyah, 2002).
• Variabel total asset turn over menunjukkan hasil yang negatif dan tidak signifikan. Penelitian
ini hampir mirip dengan penelitian yang dilakukan Tuasikal pada perusahaan pemanufakturan
dan non-pemanufakturan. Ia menemukan bahwa rasio aktivitas tidak bermanfaat untuk
memprediksi return satu tahun ke depan. Namun, berbeda hasilnya ketika digunakan untuk
memprediksi return dua tahun ke depan. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh
Kennedy (2003) yang menunjukkan variabel asset turn over berpengaruh signifikan terhadap
return saham. Kemungkinan perbedaan ini karena perbedaan sampel dan ukuran perusahaan.
Kennedy menggunakan rasio perusahaan LQ 45 di BEJ. Menurut White, Sondhi & Fried
(2002) rasio antarperusahaan bisa berbeda karena perbedaan waktu perolehan aset. Misalnya
aset yang baru lebih efisien karena pengaruh teknologi dan jika keadaan inflasi, aset bisa
menjadi lebih mahal.
Meskipun penelitian ini mengindikasikan bahwa rasio aktivitas belum mendapat perhatian
dari investor untuk memprediksi return, diharapkan investor dapat mengamati aktivitas
perusahaan berdasarkan rasio aktivitas ini.
V. SIMPULAN, KETERBATASAN DAN IMPLIKASI
15
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan di atas, penelitian ini menemukan hal-hal sebagai berikut.
• Variabel current ratio memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap return
saham satu periode ke depan. Hal ini mengindikasikan bahwa pemodal akan memperoleh
return yang lebih tinggi jika kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka
pendeknya semakin tinggi.
• Variabel return on asset berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham satu
periode ke depan. Hasil ini konsisten dengan teori dan pendapat Mogdiliani dan Miller
(MM) yang menyatakan bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh earnings power dari aset
perusahaan. Hasil yang positif menunjukkan bahwa semakin tinggi earnings power
semakin efisien perputaran aset dan atau semakin tinggi profit margin yang diperoleh oleh
perusahaan. Hal ini berdampak pada peningkatan nilai perusahaan yang tentunya dapat
mempengaruhi return saham satu tahun ke depan. Simpulan ini juga mendukung hasil
penelitian terdahulu, antara lain Silalahi (2001), Natarsyah (2002), dan Kennedy (2003).
• Variabel debt to equity rasio menunjukkan hasil yang positif, tetapi tidak signifikan. Hal
ini mengindikasikan bahwa rasio utang tidak menyebabkan perubahan return saham satu
tahun ke depan. Hal ini tidak konsisten dengan penelitian Natarsyah yang menyatakan
bahwa DTE berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Perbedaan ini
kemungkinan disebabkan oleh perbedaan sampel dan variabel dependen yang digunakan.
Kemungkinan hasil akan berbeda jika digunakan untuk memprediksi return dua atau tiga
tahun ke depan.
• Variabel total asset turn over menunjukkan hasil yang negatif dan tidak signifikan.
Penelitian ini hampir mirip dengan penelitian yang dilakukan Tuasikal pada perusahaan
pemanufakturan dan nonpemanufakturan. Ia menemukan bahwa rasio aktivitas tidak
bermanfaat untuk memprediksi return satu tahun ke depan. Namun, hasilnya akan
berbeda ketika digunakan untuk memprediksi return dua tahun ke depan. Berbeda dengan
penelitian yang dilakukan oleh Kennedy (2003) yang menunjukkan variabel asset turn
over berpengaruh signifikan terhadap return saham.
Meskipun penelitian ini mengindikasikan bahwa rasio aktivitas belum mendapat perhatian
dari investor untuk memprediksi return, diharapkan investor dapat mengamati aktivitas
perusahaan berdasarkan rasio aktivitas ini.
16
5.2 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan.
• Pertama perusahaan yang dipilih dalam penelitian ini tidak random dan jumlahnya sangat
sedikit.
• Penelitian ini tidak mempertimbangkan adanya size effect. Ukuran perusahaan
mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba yang pada akhirnya dapat
mempengaruhi tingkat return yang diperoleh oleh investor.
• Jumlah rasio keuangan yang dimasukkan dalam model masih sangat sedikit sehingga hal
ini mungkin akan mempengaruhi hasil analisis penelitian ini.
5.3 Implikasi bagi Penelitian Berikutnya
Penelitian berikutnya hendaknya dapat memperluas penelitian mengenai hal yang sama
dengan mempertimbangkan faktor ekonomi, seperti tingkat inflasi, tingkat bunga, atau perubahan
kurs sebagai variabel pemoderasi hubungan antara rasio keuangan dan return saham.
DAFTAR PUSTAKA
Asyik, Nur Fadjrih. 1999. “Tambahan Kandungan Informasi Rasio Arus Kas”. Jurnal Riset
Akuntansi Indonesia, Vol.2 No.2, Juli: 230—250.
Foster G.1986. Financial Statement. Second Edition. Prentice Hall, Singapore Inc.
Gujarati D. 2003. Basic Econometric. Forth Edition. Mc.Graw-Hill, International Edition.
Gupta M.C. dan R.J. Heufner.1972. A Cluster Analysis Study of Financial Ratios and Industry
Characteristics, Journal of Accounting Research. Dalam Mas’ud Machfoedz, 1994,
Financial Ratio Characteristic Analysis and The Prediction of Earnings Changes in
Indonesia. Kelola No. 7: 114—133.
Horrigan, O.J. 1965. “Some Empirical Bases of Financial Ratio Analysis”. The Accounting
Review. July: 555—568.
Http://www.kompas.co.id. Di-download 18 April 2005.
Kennedy J.S.P. 2003. “Analisis Pengaruh dari Return on Asset, Return on Equity, Earnings Per
Share, Profit Margin, Asset Turnover , Rasio Leverage dan Debt to Equity Ratio terhadap
17
Return Saham (Studi terhadap Saham-saham yang Termasuk dalam LQ-45 di BEJ Tahun
2001)”. Tesis tidak dipublikasikan, Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta.
Machfoedz, Mas’ud. 1994. “Financial Ratio Characteristic Analysis and The Prediction of
Earnings Changes in Indonesia”, Kelola No. 7: 114—133.
Natarsyah S. 2002. “Analisis Pengaruh beberapa Faktor Fundamental dan Risiko Sistematik
terhadap Harga Saham”. Bunga Rampai Kajian Teori Keuangan. Jogjakarta: BPFE.
Nur Indriantoro dan Bambang Supomo. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan
Manajemen Edisi pertama. Jogjakarta: BPFE.
O’Connor, Melvin. C. 1973. “On The Usefulness of Financial Ratios to Investors in Common
Stock”. The Accounting Review. April: 339—352.
Pankoff dan Vergill. 1970. “On The Usefullness of Financial Statement Information: A
Suggested Research Approach”. Accounting Review. April, 269—279.
Parawiyati, Ambar W.H., Edi S. 2000. “Penggunaan Informasi Keuangan untuk Memprediksi
Keuntungan Investasi bagi Investor di Pasar Modal”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia.
Vol.3, No. 2, Juli: 214—228.
Silalahi, D. 1991. “Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Harga Saham (Studi pada
Pasar Modal Indonesia)”. Tesis tidak dipublikasikan. Program Pascasarjana Universitas
Airlangga, Surabaya.
Standar Akuntansi Keuangan. 1999. IAI. Jakarta: Salemba Empat.
Surat Keputusan Ketua Bapepam Nomor KEP-51/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996.
Tuasikal A. 2001. “Penggunaan Informasi Akuntansi untuk Memprediksi Return Saham: Studi
terhadap Perusahaan Pemanufakturan dan Nonpemanufakturan”. Simposium Nasional
Akuntansi IV. Bandung Agustus; 762—786.
White G.I., Ashwinpaul C. Sondhi dan Dov Fried. 2003. The Analysis and Use of Financial
Statements. USA: John Wiley. pg. 119—135.
Zainudin dan Jogiyanto H. 1999. “Manfaat Rasio Keuangan dalam Memprediksi Pertumbuhan
Laba: Suatu Studi Empiris pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek
Jakarta”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 02, No. 01, Januari: 66—84.
18
LAMPIRAN
DAFTAR NAMA EMITEN DAN DATA RASIO KEUANGAN
NO TAHUN NAMA RETURN CURRENT DTE ATO ROA
1 1999 AISA -0.25 0.14 -22.352863 0.41 -6.9934847
2 2000 AISA -0.338983051 0.08 -2.1897774 0.55 -77.679051
3 2001 AISA -0.338983051 0.05 -1.756348 0.51 -36.055563
4 2002 AISA -0.378787879 1.46 -15.890045 0.39 21.7009805
5 2003 AISA 0.076923077 1.22 3.61428498 0.49 -2.4958187
6 1999 INDF -0.230773855 0.89 3.41999988 21.7 13.1175125
7 2000 INDF 0 1.33 3.1 1.01 5.14688207
8 2001 INDF -0.25580459 0.87 2.64 1.12 5.75024374
9 2002 INDF 0.03073413 1.65 3.16 1.08 5.26264405
10 2003 INDF 0.559139785 1.94 2.74 1.17 3.94203903
11 1999 MYOR -0.351727718 6.81 1.1052522 0.42 3.47683731
12 2000 MYOR -0.076081621 4.89 1.2 0.52 -1.7814257
13 2001 MYOR -0.11952487 4.57 1.11 0.63 2.34990453
14 2002 MYOR 1.426644139 5.99 0.79 0.75 8.96819589
15 2003 MYOR 0.350324922 9.82 0.58 0.86 6.54018085
16 1999 SHDA 0.238102881 4.65 0.18 1.1 22.3187132
17 2000 SHDA 0.971156339 5.58 0.19 1.12 24.2068499
18 2001 SHDA 0.002104502 5.15 0.17 1.17 28.2180754
19 2002 SHDA 1.051019044 8.02 0.12 1.09 18.9520267
20 2003 SHDA 1.051019044 6.66 0.15 0.98 19.6764604
21 1999 SMART -0.651543662 0.91 4.86 1.07 5.04259919
22 2000 SMAR -0.177777778 0.38 -317.0158 0.62 -32.995686
23 2001 SMAR 0.216216216 0.31 -7.4974048 0.59 -15.414198
24 2002 SMAR 1.577777778 0.61 -15.890045 0.86 7.88286333
25 2003 SMAR 0.086206897 0.56 3.61428498 0.92 1.91959101
26 1999 ULTJ -0.516868421 1.92 0.54 0.37 0.00173255
27 2000 ULTJ 2.57150194 1.54 0.48 0.46 4.22533418
28 2001 ULTJ -0.333328007 1.71 0.9150463 0.49 0.00313167
29 2002 ULTJ -0.217922196 1.1 0.94 0.4 1.85703776
30 2003 ULTJ 0.271186441 1.03 1 0.44 0.66601181
31 1999 ADES 0.437507804 0.17 -27.913282 0.31 0.10500888
32 2000 ADES 0.022219263 0.24 1.42870089 0.5 45.408876
33 2001 ADES 0 0.46 1.61 0.59 -4.9383192
34 2002 ADES 0.68631101 0.55 1.38 0.72 3.57244692
35 2003 ADES 1.490516878 0.37 1.13 0.88 1.83240212
36 1999 AQUA -0.222798273 1.16 1.53 1.89 8.22891927
37 2000 AQUA 1.533333661 0.71 1.76 1.61 11.2794633
38 2001 AQUA 0.02862155 0.68 2.11 1.55 9.34857486
39 2002 AQUA -0.998961394 1.31 1.43 1.9 0.01231587
40 2003 AQUA 0.077276336 5.03 0.93 2.06 11.8614108
41 1999 DAVO -0.407407407 0.66 5.97 0.87 -0.2677223
42 2000 DAVO -0.646788991 476.12 -10.049805 0.77 0.80405533
43 2001 DAVO -0.161425577 112.92 0.64 0.66 0.80405533
44 2002 DAVO 3.9 334.24 0.59 0.76 2.79326646
19
45 2003 DAVO 11.24489796 497.87 0.51 0.96 10.2917771
46 1999 CEKA -0.407407407 4.83 0.37 0.78 7.42838742
47 2000 CEKA -0.66667076 1.79 0.29 0.59 -2.813905
48 2001 CEKA 0.214271929 1.45 0.4 0.49 -1.578E-06
49 2002 CEKA 0.155536543 1.92 0.32 0.58 3.24555155
50 2003 CEKA 1.165534231 2.47 0.29 0.61 1.07536351
51 1999 DELTA 0.027027027 2.46 0.63 0.69 18.6568507
52 2000 DELTA 0.165517056 2.14 0.78 0.67 8.89880059
53 2001 DELTA 0.049079403 2.53 0.35 0.88 12.8552156
54 2002 DELTA 0.225367094 3.92 0.25 0.75 12.1910039
55 2003 DELTA 0.763830962 5.07 0.22 0.76 9.57915882
56 1999 FASTFOOD 0 1.31 1.18 2.59 9.0791113
57 2000 FASTFOOD -0.088235657 1.36 1.25 2.26 13.9890991
58 2001 FASTFOOD -0.290323889 1.11 1.02 2.82 12.316597
59 2002 FASTFOOD 0.013933244 1.33 0.79 2.93 15.4062714
60 2003 FASTFOOD 0.070663812 1.27 0.69 2.83 12.9307733
61 1999 TBL -0.221621622 1.62 2.51 0.95 9.76267256
62 2000 TBL -0.289483261 2.7 1.29 0.71 0.18694607
63 2001 TBL 0.017229189 0.85 1.33 0.66 -0.7721241
64 2002 TBL -0.384475124 1.02 1.13 0.61 4.07240395
65 2003 TBL 0.662535518 1 1.28 0.62 2.19661574
Hasil analisis regresi
Variables Entered/Removedb
dte,
current,
ato, roa
a . Enter
Model
1
Variables
Entered
Variables
Removed Method
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: ret
Model Summary
,668a ,446 ,409 1,21298
Model
1
R R Square
Adjusted
R Square
Std. Error of
the Estimate
a. Predictors: (Constant), dte, current, ato, roa
20
ANOVAb
71,131 4 17,783 12,086 ,000a
88,280 60 1,471
159,411 64
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
a. Predictors: (Constant), dte, current, ato, roa
b. Dependent Variable: ret
Coefficients(a)
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
Model B
Std.
Error Beta t Sig.
(Consta
nt) ,058 ,180 ,320 ,750
current ,011 ,002 ,659 6,804 ,000
roa ,021 ,010 ,203 2,043 ,045
ato -,033 ,058 -,056 -,574 ,568
1
dte ,000 ,004 ,001 ,008 ,994
a Dependent Variable: ret



sumber :

http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/i%20g%20k%20a%20ulupui%281%29.pdf